oleh: Muzayyin Arif
(Anggota DPRD Sulsel Fraksi PKS)
Kali ini acaranya agak serius. Warga kampung berkumpul di bawah tenda. Tua muda, anak-anak semua duduk bersila, memperlihatkan sikap terbuka untuk kami yang datang bersilaturahim di kampung mereka.
Bagi saya, ini moment yang paling bermakna. Sungguh kekayaan yang paling berharga bagi daerah ini adalah warganya. Tiada arti Sumber Daya Alam kalau Sumber Daya Manusianya tidak memiliki semangat hidup yang baik dan ditopang keyakinan yang mantap kepada Allah, Tuhan yang Maha Kuasa.
Karena itu, saya memberi motivasi kepada para warga di kampung ini untuk tidak kehilangan optimisme terhadap kehidupan ini termasuk masa depan meraka. Sekalipun dengan seluruh kesulitan hidup yang mereka hadapi saat ini.
Apalagi ketika menatap anak-anak kecil yang tinggal di kampung ini, ingin rasanya membawa mereka pergi dan hidup selayaknya anak-anak lain. Tapi saya sadar mereka punya kehidupannya sendiri dan boleh jadi mereka lebih bahagia dari anak-anak kita yang hidup di perkotaan.
Saya hanya menitip pesan, kalau mereka ingin bersekolah yang lebih baik, maka saya bersedia memfasilitasi dan menjadi bapak asuhnya.
Saya melihat mereka tersenyum bahagia. Semoga ini pertanda baik untuk kami dan masa depan mereka. Amin.
Cindako adalah nama dusun terjauh dari Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu, Maros Sulawesi Selatan.
Kisah sebelumnya: Menikmati Sinriliq dan Sarabba di Cindako


0 Komentar