Satu Sapa Beribu Asa, Cerita dibalik PKS Menyapa Tabanan

PKS di Bali


Oleh: Bunda Najwa

Minggu pagi sebisa mungkin saya jadwalkan untuk Si Kecil, seperti pagi ini berakhir di lapangan Alit Saputra. Belum selesai satu putaran tiba-tiba Si Kecil berteriak.

 

"Mama! Mama! ada PKS kita...!"

Reflek saya langsung tengok kanan kiri mencari yang dimaksud si Kecil. Karena melihat saya kebingungan ditarik lah tangan saya ke arah gerobak Siomay dan Si Kecil menunjukkan stiker PKS yang ditempel di bagian bawah gerobak.


Setelah sepi antrean, saya pesan 2 porsi Siomay. Saya buka obrolan santai dengan si Abang Siomay yang asli orang Sunda.

Lalu saya tanya, "dapat stiker PKS dari mana Kang?"

"Oh, itu Bu. Dulu pernah ada pembagian sembako di pojokan sana.  lumayan Bu, waktu itu saya dapat minyak sama kopi. Kapan ada lagi, ya?" Jawabnya dengan antusias.


Saya tersenyum simpul, pasti dari program PKS Menyapa, ucapku dalam hati.


"Apalagi sekarang apa-apa mahal Bu. Telur, tepung, gas katanya langka," keluhnya. 

Si Abang siomay masih terus menyampaikan uneg-unegnya.


"Pak Anies kan dipilih PKS jadi Presiden, ya. Mudah-mudahan menang ya, Bu. Capek kita jadi rakyat kecil ditindas terus. Kita kerja cuma buat cari makan, Bu. Pejabat kerja buat numpuk harta. Udah dipilih bukannya kerja malah uang rakyat dimakan," tambahnya dengan nada kesal.


Masih panjang lagi ocehan si Akang tukang Siomay. Saya hanya bisa senyum dan menjawab, "ya, doakan yang terbaik buat negeri ini, ya Kang. In Syaa Allah PKS terus bersama Rakyat."


Akhirnya saya bayar 2 porsi Siomay dan sedikit saya lebihkan untuk anaknya yang katanya mau masuk SMP. 


"Hatur nuhun, Bu. Saya doakan PKS menang di sini, menang di mana-mana, Pak Anies jadi Presiden," dan sederet doa panjang yang terus saya aminkan sembari menahan haru. 


Padahal selama obrolan berlangsung tak pernah saya sebutkan kalau saya orang PKS. 

Ada rasa haru dan sedih dari obrolan singkat itu. Terharu karena belum ada seujung kuku PKS menyapa dan memberi namun sudah ada yg membekas di hati mereka. Sedih, karena belum banyak yang bisa kita perbuat untuk mereka.


Miris. Katanya di negeri ini tongkat kayu dan batu jadi tanaman tapi mereka mengaku untuk makan saja belum tercukupi.

Katanya, Bumi, air dan kekayaan alam dipergunakan untuk kemakmuran negeri tapi ternyata malah dikuasai Oligarki.


Dua porsi Siomay yang berakhir dengan untaian doa panjang dari mereka yang merasa terzolimi, bisa jadi doa mereka lebih cepat sampai ketimbang kita yang mengaku rajin ibadah.


Tabanan Bali, Minggu 11 Juni 2023

 

Posting Komentar

0 Komentar