Oleh: Muhammad Zamzami Firdaus.
Staff Ketahanan Keluarga DPW PKS Kalbar.
Hari itu, saya diminta Kabid Humas DPD PKS Kubu Raya untuk bantu foto caleg, sebagai syarat administrasi pencalonan anggota legislatif 2024. Turut hadir dalam kegiatan itu; dua anak anggota, orangtuanya adalah pengurus Humas DPD PKS Kubu Raya.
Di tengah sesi pemotretan, Zakir (5 tahun) mencoba mencari tahu cara kerja kamera yang saya letakkan di atas kursi. Dia coba mengintip melalui jendela bidik. Si ibu sempat mengarahkan mereka untuk menjauhi kamera itu, namun saya coba untuk menengahi dengan cara mengajarkannya cara memotret.
Dari menyandangkan tali strap kamera di bahu, posisi tangan kanan pada gelang lensa dan tangan kiri pada grip kamera. Saya lihat Zakir kecil kesulitan pada langkah awal itu, bahkan tangan mungilnya tidak cukup besar untuk menekan tombol Shutter kamera, namun setelah saya ajarkan lagi, perlahan Zakir mulai faham.
Zakir kecewa dengan hasil jepretan pertama nya, karena gambar tidak muncul, kemudian saya setting kamera pada mode manual, mode termudah untuk anak 5 tahun. Alhamdulillah, gambar sudah bisa dilihat Zakir di layar kamera. Senyum puas Zakir menghiasi wajah imutnya, segera dia menunjukkan hasil karyanya pada sang ibu.
Tak puas sampai disitu, Zakir pamer mainan barunya pada sang kakak Kia (9 tahun), keributan kecil hampir meletus karena sang kakak ingin berkarya seperti adiknya. Lalu saya usulkan untuk menggunakan kamera kedua, segera Adzkia mengambil kamera saya diruang depan.
Kembali saya ajarkan cara memotret langkah demi langkah sebagai pelajaran awal memotret. Kali ini Kia yang duduk kelas 3 SD, lebih cepat faham.
Masing-masing menyandang kamera DSL semipro, jadilah kakak adik itu praktik fotografi di sesi awal pencalegan itu.
Saya puas dengan sesi pemotretan dan magang kecil kami. Saat diberitahukan untuk berhati-hati menggunakan kamera, kakak adik ini juga merespon positif dengan menjaga jarak dan lebih kalem.
Anak-anak kita, idealnya sudah harus mengenal pekerjaan orang tua nya, mereka harus mengenal bagaimana cara orang dewasa bekerja, tentu dengan kapasitasnya sebagai anak-anak. Hal ini lebih dikenal dengan istilah magang, atau praktik kerja. Magang ini akan merintis jiwa Aqil baligh/kedewasaan, menanamkan pada diri anak pentingnya aturan yang harus mereka terapkan untuk dirinya sendiri, apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan, selain akan menanamkan rasa harga diri pada jiwa anak.
Saya sendiri memimpikan kerja-kerja bidang DPD PKS adalah sarana magang bagi anak-anak anggotanya, manjadi laboratorium bagi anak anggota.
Memberikan bantuan sebagai kegiatan volunteering, mengadvokasi tani dan nelayan, kunjungan ke daerah, meliput kegiatan, menulis berita, camping kepanduan, mempublikasi kegiatan, menggalang opini massa dan semua kegiatan bidang adalah kegiatan yang bisa melibatkan anak-anak anggota sebagai sarana pembelajaran mereka, tentu dengan kesesuaian tingkat usia anak.
Nun lampau di sana, nabi Muhammad kecil juga mengikuti proses magang ini sebagai kurikulum tarbiyah yang Allah tetapkan. Pada usia enam tahun, Rasulullah sudah faham dengan menggembala kambing pada Bani Sa'diyah, masuk belasan, Rasulullah bepergian berdagang keluar negeri, dilanjutkan dengan partisipasinya dalam Perang Fijjar sebagai pengumpul anak panah.
Betapa kita saksikan disini pengalaman magang Nabi Muhammad kecil itulah yang menjadi sarana efektif yang menghantarkan nabi Muhammad pada misi kehidupannya sebagai nabi dan penutup para rasul.
Aktivitas penyebaran dakwah Islam Rasulullah yang ditopang pada kekuatan nabi Muhammad mengenal objek dakwahnya, bernegosiasi dan berargumentasi diasah Rasulullah dengan berdagang. Kesabaran Rasulullah menempuh reli-reli panjang cobaan di ampu beliau pada pengalamannya safar berbulan-bulan meninggalkan Makkah.
Pemahaman akan geopolitik jazirah Arab sudah diketahui Rasulullah saat beliau berdagang keluar negeri (Syam). Pentingnya siasat untuk memenangkan perang tertanam saat beliau magang perang fijjar.
Jauh sebelumnya, menggembala kambing membentuk Nabi sebagai pribadi yang kuat jasmani karena harus berpindah tempat mencari pakan ternak, memahami perubahan kondisi alam dan piawai menyesuaikan diri, serta melatih kesabaran dan konsistensi memahami kondisi ruh dan jasad gembala pengikutnya membuat Rasulullah sempurna sebagai seorang pemimpin.
Satu kepastian bahwa magang sebagai kurikulum tarbiyah nabawiyah yang Allah gariskan untuk para nabi dan rasulNya, serta di terapkan para sahabat dan generasi setelahnya;
Satu pelajaran penting saat Khalid bin Walid, seorang sahabat Nabi yang berjuluk pedang Allah, memenangkan perang kaum muslimin berjumlah 300 orang melawan pasukan Persia berjumlah 200.000 pasukan. Ketika ditanya tentang kemahiran Khalid bersiasat dalam perang itu; "bagaimana anda bisa sangat mudah memindahkan pasukan dan mengatur strategi pada perang ini?" Khalid bin Walid menjawab "ini adalah tempat permainanku dahulu". Demikianlah, ternyata lokasi permainan yang sangat jauh menjadikan Khalid sebagai panglima perang yang kenyang pengalaman magang sehingga mudah baginya untuk mengatur siasat perang.
Setidaknya setiap DPD memiliki program unggulan yang bisa diikuti anak anggota sebagai projek magang mereka; ada 14 lokasi magang yang menawarkan tema dan aktifitas yang sangat besar keragamannya bagi anak anggota untuk mengasah kemampuan dan pengalaman hidup mereka. Pengalaman yang akan memudahkan anak-anak kita menemukan misi peradabannya; tujuan penciptaannya.
Betapa asyiknya aktivitas anak anggota memahami sosial budaya masyarakat melalui Kembara di Sambas, memahami keragaman geografi dan geopolitik melalui Itikaf Ramadhan di Kapuas hulu, atau safar ke Kuching sebagai tarbiyah sunnah ala Rasulullah.
Semoga.


0 Komentar