Oleh: Teguh Husadani
Hari ini berita-berita dan sosial media diramaikan dengan tema Indonesia yang gagal jadi tuan rumah Piala Dunia 2023 karena keputusan FIFA. Meski FIFA tidak menyebut hal itu disebabkan karena ditolaknya Israel di Indonesia, tapi menyebutkan "following the tragedy that occured in October 2022" alias Tragedi Kanjuruhan. Namun, dunia maya riuh dengan bully-an kepada Ganjar dan Koster yang dianggap sebagai biang keroknya kegagalan ini karena pernyataannya menolak Timnas Israel. PKS sedikit banyak diserang juga di akun-akun sosmed officialnya karena PKS sejak awal menolak Timnas Israel ini, yaitu Juni, 2022. setelah Israel lolos Piala Dunia U-20. Artinya sudah sejak lama PKS mewanti-wanti Pemerintah, dan meminta ada solusinya, bukan baru-baru ini saja.
Nah, dari situ, muncul pemikiran saya. Kalau pembicaraan tema-tema seperti ini di sosial media sangat mudah dipantau yah, apalagi di twitter. Kita bisa tahu PKS dibicarakan seperti apa. Bagaimana dengan offline? Pembicaraan di warung kopi, di rumah tokoh masyarakat, di arisan ibu-ibu, pengajian majelis taklim dan lainnya? Apakah perjuangan PKS ini masuk dalam pembicaraan mereka? Jangan-jangan mereka nggak tau, karena PKS jarang ada di media mainstream. Kalau pun ada, munculnya di talkshow atau di berita, minimal di running teks, yang belum tentu ditonton karena yang ditonton masyarakat adalah sinetron dan infotainment.
Jadi, mengapa tidak kita bahas perjuangan PKS itu saat silaturahim bersama masyarakat, saat berkumpul bersama mereka? Saat kita berbaju PKS attuaupun sebagai warga atau lainnya. Siapa tahu ada efek "word of mouth" atau dari mulut ke mulut mempromosikan perjuangan PKS. Ini bukan sesuatu hal yang bisa dipantau seperti percakapan di sosial media, tapi bisa dilakukan dengan para anggota dan simpatisan PKS.
Sedikit testimoni, alkisah saya hanya melakukan silaturahim kepada seorang Ketua RW hanya 3 kali. Tapi saat bertemu itu, selalu saya sampaikan apa saja yang diperjuangkan PKS. Tema-tema masalah apapun saya sampaikan standing position PKS. Sebulan kemudian, tiba-tiba pengurus RW mengundang caleg PKS untuk hadir dalam acaranya bersama seluruh warga RW. Salah satu tokoh masyarakat yang saya juga baru pertama kali bertemu, menyatakan bahwa seluruh warga RW-nya mendukung PKS dan caleg PKS. Wallahu'alam bishowab apakah ada ke-"gathuk'-an di situ. Tapi yang jelas, tokoh-tokoh yang lain yang saya silaturrahim dan saya ceritakan perjuangan PKS, begitu mudahnya mendukung PKS. Bahkan ada Ketua RT yang saya silaturrahim mempersilakan RT-nya dipakai kegiatan PKS. Padahal, saya tahu belakangan bahwa beliau itu ketua ranting PDIP.
Sudah terlalu sering, terlalu banyak informasi perjuangan PKS berseliweran di grup-grup WA, di akun-akun sosmed resmi PKS di berbagai struktur. Saatnya kita jadikan bahan untuk percakapan baik di sosial media maupun dalam pertemuan-pertemuan offline bersama masyarakat.


0 Komentar