Oleh: Azwar Tahir
Reli PKS Luwu Timur Sulsel
Belum lama ini, ada dua isu yang viral. Sumbernya dari perempuan, yang disasar juga kaum perempuan, khususnya ibu-ibu. Isu pertama adalah childfree. Isu kedua, ibu-ibu yang rajin ikut pengajian dianggap menelantarkan anak-anak.
Kira-kira bagaimana jika kedua isu ini kita bawa kepada seorang ibu dari enam orang anak sekaligus Ustadzah yang biasa isi pengajian ibu-ibu? Penasaran seperti apa komentarnya? Okelah, segera kita sambut:
Ustadzah Prima Eyza Purnama, A. Md....!
Isu pertama soal childfree, begini kata beliau;
“Setiap kita hidup dengan basic pemahaman masing-masing. Kalo basic pemahaman saya: setiap manusia diciptakan Tuhan dengan fitrah. Mungkin bahasa awamnya sering disebut kodrat juga (mungkin dari bahasa Arab: Qodar 😁). Diantara kodrat manusia adalah berketurunan. Childfree tentu tidak sejalan dengan kodrat ini. Jika manusia melawan kodratnya, tentunya akan merusak dirinya sendiri. Bisa merusak fisiknya (ada gangguan penyakit dll). Bisa juga merusak pikiran dan jiwanya sebagai manusia yang normal.
Kalau bicara dengan kerangka Islam, tentu lebih jauh lagi gak sesuainya. Islam menyukai umatnya banyak berketurunan, melahirkan orang-orang sholeh yang akan menjayakan umat. Juga orangtua tentu butuh sekali kepada doa anak-anak sholeh.
Di samping semua logika syariat itu, punya anak dan banyak anak adalah budaya Islam. Orang Islam itu pada dasarnya senang dan bahagia kalau punya anak. Maka kalau ada muslim yang tidak suka bahkan menolak punya anak, nah itu kita gak ngerti mereka ngambil budaya dari mana 😁”
Isu kedua soal ibu-ibu pengajian yang disentimeni menelantarkan anak-anak. Betulkah demikian? Simak sampai tuntas jawaban Ustadzah Prima;
“Sentimen negatif terhadap ibu-ibu pengajian sebenarnya tidak nyambung dan terlalu berlebihan. Apalagi jika yang diangkat adalah konteks: kewajiban ibu mengurus suami, anak, keluarga dan rumah tangga. Justru tugas dan kewajiban seorang ibu untuk mengurus suami, anak, keluarga dan rumah tangga itu PERLU ILMU. Dan salah satu sarana potensial untuk ibu-ibu mendapatkan ilmu itu adalah di majelis pengajian-pengajian.
Belum lagi kalau kita bicara pada aspek psikologi, bahwa seorang ibu butuh "waras" 😁 dan bahagia untuk melaksanakan tugasnya mengurus suami, anak, keluarga dan rumah tangga. Nah salah satu sarana yang sangat ampuh menjaga kewarasan ibu adalah dengan aktif mengikuti pengajian-pengajian. Ilmu bertambah, pemahaman menguat, pikiran cerah, insyaa Allah selalu waras ☺️👍. Ditambah lagi pengajian adalah ajang silaturahmi, ketemu banyak teman-teman yang saling mengingatkan kepada kebaikan: ini membuat ibu-ibu semakin bahagia insya Allah.
Menelantarkan anak di rumah? Ya tidak relevan sekali 😁 ibu-ibu biasa kok bawa anak-anak kecil ke pengajian. Kalau anaknya sudah besar ya kebanyakan sudah punya agenda dan kegiatan sendiri.”
Pokoknya, prima betul jawaban dari Ustadzah Prima.
Kita melangkah ke poin berikutnya. Profil beliau. Kalau di komunitas emak-emak pengajian PKS biasa disapa “Ummu Anis”. Anis adalah nama panggilan anak sulung beliau, Anisa Fitri Nurfadila,yang kini sedang mengambil Jurusan Sastra Arab di Yarmouk University, Yordania.
Amanah Ustadzah Prima di PKS adalah Ketua Dewan Etik Daerah (DED) PKS Luwu Timur. Bagi yang mungkin belum familiar, DED ini salah satu unsur Dewan Pimpinan Tingkat Daerah (DPTD) di PKS. Bisa dibilang Ibu Prima Eyza Purnama adalah komandannya ibu-ibu PKS di sini, di Mining Town, Sorowako, dan sekitarnya. Ketika saya menanyakan jumlah Unit Pembinaan Anggota (UPA) PKS yang sedang ditangani, beliau menjawab ada enam kelompok. Ckckck. Enam kelompok! Itu di luar isi pengajian umum ya.
Kalau Ustadzah Prima sudah keluarkan arahan, nantikanlah pergerakan emak-emak. Mau itu urusan pengajian, baksos, senam PKS, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya, dulu waktu lagi berusaha promosikan buku karya saya “Kopi, Matano, dan PKS”, beliau adalah sosok yang saya andalkan untuk meng-endorse. Dan terbukti, endorse dari beliau meningkatkan jumlah pesanan👍👍. Mungkin karena melihat nama beliau ada di list pemesan, binaannya ramai-ramai ikut memesan 😆. Terima kasih ya ibu-ibu. Sudah tamat ya bacanya? Informasi, buku kedua saya sedang digarap, mohon doanya. Mohon pembeliannya juga nanti. 😂
Di bidang pendidikan formal (PAUDIT dan SDIT), Ustadzah Prima juga diamanahi posisi strategis yakni sebagai salah seorang pembina Yayasan Lingkar Cendekia Ulinnuha (YLCU), Luwu Timur. Yayasan ini dikenal dengan kiprah intensifnya menumbuhkembangkan budaya Al Qur’an. Guru-guru Al Qur’an dimonitor langsung oleh beliau. Pun begitu dengan aspek kurikulumnya.
Bagaimana dengan pengalaman organisasi. Simak listnya!
1. Ketua OSIS SMU Negeri 1 Padang
2. Bidang Penalaran dan Keilmuan Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJA) Politeknik Universitas Indonesia
3. Komisi Kemahasiswaan, Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Polteknik Universitas Indonesia
4. Ketua Keputrian (Kaderisasi) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Politeknik Universitas Indonesia
5. Ketua PC Salimah Bekasi Timur
6. Bidang Kaderisasi, DPD PKS Kota Bekasi
7. Ketua PD Salimah Kabupaten Luwu Timur
8. Bidang Kaderisasi DPD PKS Luwu Timur
9. Ketua Dewan Etik Daerah (DED) PKS Luwu Timur
Banyak kan? Jadi beliau punya pengalaman panjang berorganisasi. Juga akumulasi pengalaman lapangan. Tambahan, Bu Prima juga pernah menulis untuk Blog PKS. Judulnya "Dari Danau Matano ke Bendungan Bili-Bili (Catatan Peserta Terjauh Latansa PKS Sulsel).
Insyaa Allah, dorongan dan dukungan teman-teman PKS Luwu Timur kepada Ibu Prima Eyza Purnama, A. Md. untuk maju sebagai Bakal Calon Anggota Dewan (BCAD) dari Dapil IV (Kecamatan Nuha dan Towuti) sudah tepat. Semoga Allah mudahkan. Amin.
~


0 Komentar