Oleh: Baiq Tartil
Ketika saya merencanakan perjalanan ke Wamena, saya tidak pernah membayangkan bahwa drama keberangkatan akan terjadi. Jadwal keberangkatan awal yang seharusnya pukul 09.00 WIT, ternyata diundur menjadi pukul 14.20 WIT. Namun, saya tidak menyerah dan tetap antusias untuk melanjutkan petualangan ke Wamena.
Penerbangan pertama kali dengan pesawat kecil yang tidak mampu menampung lebih dari 100 orang membuat saya merasakan sensasi yang berbeda. Setelah beberapa jam, saya tiba di Wamena dan merasakan udara yang lebih sejuk daripada di kota tempat tinggal saya.
Tujuan utama saya adalah menghadiri pelantikan para tokoh di lapangan Baliem. Saya bergabung dengan masyarakat Wamena yang berkumpul untuk mendengarkan orasi dari para tokoh seperti Bakal Calon Anggota Dewan (BCAD), calon bupati, dan calon Gubernur Provinsi Papua Pegunungan. Yang paling unik dari acara ini adalah sapaan universal orang Wamena yang mengucapkan "wa wa wa" beberapa kali untuk menyambut tamu.
Di Papua, khususnya di Wamena atau daerah pegunungan lainnya, tokoh masyarakat yang diangkat sebagai pemimpin akan diikuti dan dituruti. Kalau dalam Islam, istilahnya sami'na wa a to' na. Oleh karenanya, setiap ada pesta demokrasi, konsolidasi dilakukan oleh petinggi masyarakat atau adat di daerah tersebut.
Konon katanya semakin banyak ucapan "wa.." semakin menambah semangat masyarakat menyambut tamu. Saat Sekjen PKS Aboe Bakar Al Ahbsyi berbicara, logatnya terdengar sangat lokal dengan slang seperti "Ko tra kosong" dan "Ko pangaruh" yang membuat suasana pelantikan semakin hangat.
Namun sebelum rombongan PKS dan tokoh yang dilantik datang, masyarakat telah melakukan upacara bakar batu. Upacara ini merupakan salah satu kegiatan tradisional suku Dani yang dilakukan sebagai tanda syukur atas hasil panen atau sebagai bentuk penghormatan kepada tamu penting.
Jumlah daging babi yang dibakar mencapai 100 ekor, namun tentu saja ini tidak dimakan oleh pengurus PKS yang beragama muslim. Sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi tertinggi, daging babi ditumpuk di kiri dan kanan podium sebagai simbol penghargaan dari masyarakat lokal kepada tamu penting atau tokoh.
Saat acara berlangsung, saya menyaksikan sebuah kejadian unik dan lucu ketika seorang anggota humas PKS menjalankan drone dan anak-anak berkumpul memperhatikan si kakak yang mengoperasikan drone. Namun, para ibu Papua menegurnya agar tidak bermain drone di depan anak-anak karena nanti anak-anak juga akan ingin bermain.
Acara berakhir dengan tarian tradisional yakni Yospan (Yosin Pancar). Masyarakat beramai-ramai berkumpul di tengah lapangan untuk menari bersama mengikuti alunan musik dengan beat reggae dan goyangan langkah kaki kecil-kecil. Pengalaman ini menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Anyway, walaupun cuaca tidak terlalu dingin saat itu, sukses membuat tim menyeruput beberapa gelas teh/ kopi panas.



0 Komentar