Dr Salim, PKS dan Politik Keberkahan



Oleh : Syamsul Lombok


Sejak terpilih menjadi Ketua Majelis Syuro PKS pada 10 Agustus 2015 silam, Habib Dr Salim Segaf Al-Jufri mulai memperkenalkan "gambar besar" PKS selama masa kepemimpinannya. Gambar itu diberi judul; KEBERKAHAN.


Terma ini kemudian selalu diulang-ulang dalam setiap pidato, arahan dan pembekalan kader PKS sebagai bentuk penegasan dan penguatan tentang nilai dan jati diri warga PKS, sekaligus visi yang hendak diwujudkannya.


Munculnya terma keberkahan ini, tidak lepas dari dinamika yang terjadi dalam tubuh PKS. Sebagai partai politik yang bersinggungan dengan kekuasaan, seringkali PKS dinilai sebagai Super Hero yang kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan sekaligus perbaikan dan kebaikan. 


Akan tetapi, dalam perjalanannya, PKS dihadapkan pada realitas politik bahwa sebagian dari kadernya yang memegang amanah kekuasaan, harus berurusan dengan hukum, sesuatu yang amat dihindari dan menjadi aib bagi partai yang identik dengan aktivis dakwah itu.


Habib Salim hadir untuk mencoba menegakkan kembali nilai moral PKS. Ibarat menegakkan benang basah, Ia dengan sabar mencoba mencari cara agar ujung benang mengering dan dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam lubang jarum. Meski dalam perjalanannya itu, Ia harus menanggung risiko yang tidak kecil dan ongkos politik yang amat mahal.


Sempat muncul riak-riak jelang Pemilu 2019 lalu. Hal itu dipilih dan menjadi ongkos politik yang harus ditanggung untuk menyehatkan kembali PKS, yang hampir saja divonis mandul akibat ragam problematika yang dihadapinya. Kini, PKS nampaknya sudah selesai rawat jalan dan terlihat pulih kembali. Bahkan, tidak ada tanda-tanda bekas operasi. PKS tampak sehat dan mulai tampil percaya diri.


Politik Keberkahan yang digaungkan Habib Salim membuahkan hasil. Sejak kepemimpinannya, hampir tidak terdengar lagi ada pimpinan PKS yang berurusan dengan hukum. Secara statistik, kader PKS yang berurusan dengan KPK juga masih nol alias zero case. 


Hal lain yang cukup menonjol dari kepemimpinan Habib Salim adalah reformasi total wajah dan penampilan PKS. Tahun 2020 kemarin, PKS merombak AD/ART-nya, serta mengubah logo dan kurikulum pembinaannya. Bisa dikatakan, PKS hari ini melompat lebih tinggi dan berlari lebih kencang meninggalkan masa lalunya.


Keberkahan yang digaungkan Habib Salim mengajak warga PKS untuk move on, mengajak mereka melakukan hal-hal yang sederhana, tapi bermanfaat. Ia juga tidak suka bernarasi terlalu tinggi, tetapi minus dalam aksi. Ia menghendaki agar segenap keluarga besar PKS memberikan pelayanan mendasar kepada warga agar PKS dirasakan manfaatnya oleh segenap manusia.


Dalam pidato politiknya yang disampaikan saat Apel Siaga Pemenangan PKS dan Bacapres Anies Baswedan hari ini di Jakarta, Ia mengutip hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Salam:


“Wahai manusia, tebarkanlah salam, bagikanlah makanan, dan shalatlah pada waktu malam ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian pasti masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi)


Dari sini, inti sari politik Keberkahan Habib Salim digali. PKS yang Ia impikan adalah partai politik yang menebarkan kedamaian, peduli terhadap sesama, membantu orang yang susah, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, merawat harmonisasi antar anak bangsa sekaligus menolak polarisasi yang bermotif SARA. 


PKS yang dicita-citakannya adalah PKS yang mendatangkan keberkahan. Berkah untuk para pimpinan, pengurus, kader dan simpatisannya, berkah untuk warga dan rakyat yang dipimpinnya, berkah untuk seluruh ummat manusia.


#


Penulis adalah Kabid Humas DPD PKS Lombok Timur 

Posting Komentar

0 Komentar