Oleh: R. Irwan Waji
Program PKS Menyapa yang di-launching beberapa bulan yang lalu adalah produk dan inisiasi dari Bidang Kaderisasi DPP PKS. Program ini memberikan harapan yang sangat besar karena menurut evaluasi tahap pertama, PKS Menyapa telah memperlihatkan geliat dan keterlibatan kader/anggota PKS mencapai 70%.
Semula program ini untuk internal Bidang Kaderisasi tetapi kemudian diakuisisi oleh Sekretaris Jendral (Sekjen) untuk dijadikan sebagai program nasional dan struktur partai akan memfasilitasi para kader dan anggota untuk menyapa masyarakat Indonesia seraya memperkenalkan simbol-simbol utama PKS yakni lambang dan nomor urut 8 yang kembali disandang di pemilu 2024 mendatang.
Tentu saja, tidak menutup kemungkinan PKS Menyapa melahirkan efek lain; rekrutmen. Meski tujuan utama program ini pertama agar masyarakat mengenal simbol utama partai dan yang kedua adalah agar para anggota dan kader tidak disibukkan oleh berbagai "isu dan rumor politik" yang bisa membuat pikirannya terkontaminasi oleh isu murahan yang bisa mengakibatkan habis waktu dan tidak bisa bergerak dan melakukan apa-apa.
Program ini sesungguhnya sangat fleksibel dari sisi implementasinya, tergantung sasaran atau objek yang ditargetkan. Seperti baru-baru ini kami menyasar seorang tokoh dan aktivis yang sudah malang melintang di dunia organisasi kepemudaan bahkan reputasinya di bidang politik bukan kaleng-kaleng. Pernah menjadi Anggota DPR-RI satu periode, 2014-2019 juga menjadi anggota legislatif DPRD Propinsi Sulawesi Selatan tiga periode. Beliau adalah Abubakar Wasahuwa, putra Ambon Manise. Perbedaan suku dan tempat lahir bukan penghalang baginya untuk bergaul, bersahabat, bahkan mendapatkan kepercayaan tinggi dari masyarakat Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, implementasi PKS Menyapa bisa dikatakan seni mengelola silaturahim. Kapan dan dimana saja, dengan cara dan sarana apa saja. Itulah politik kita di PKS; politik silaturahim.
Pelajaran kedua dari pertemuan dengan Pak Abu, sapaan akrab Abubakar Wasahuwa, adalah bahwa nilai dan prinsip adalah mata uang universal yang berlaku di seluruh dunia, yang masa berlakunya tak kenal tempat dan waktu, selamanya. Seorang tokoh dan sastrawan politik Indonesia yang berhaluan Kiri pernah berkata:
"Prinsip adalah harta termahal yang dimiliki oleh seorang pemuda."
Dengan kata lain jangan sebut pemuda bila tak punya prinsip alias imma'ah yaitu kesetiannya seiring cuaca politik berganti kulit.
Itulah yang menjadi salah satu kekaguman seorang Rocky Gerung terhadap ajaran Islam. Bahwa satu-satunya agama yang memiliki konsep paling lengkap dan mampu mentransformasikan doktrin ideologi menjadi doktrin sosiologi yang sepadan dan seimbang.
Saya teringat akan sekian banyak doktrin dalam Islam ini yang menyandingkan antara loyalitas kita kepada Tuhan dan komitmen pengabdian kita kepada masyarakat, diantaranya yang paling kita hafal
"Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling banyak menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat kalian"
Wallahu a'lam bish shawab


0 Komentar