Pelajaran Dibalik Kemah Bakti Nusantara

Oleh : Rofianto Reli Lampung

Kemah Bakti Nusantara (Kembara) agenda akhir tahun Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang biasanya dinantikan oleh seluruh anggota PKS. Tak terkecuali di Lampung, momen Kembara adalah momen istimewa yang woro-woro pelaksanaannya sudah digaung sebulan sebelum hari pelaksanaan. Tujuannnya agar anggota mempersiapkan diri, baik persiapan fisik, materi, maupun perizinan kerja. 

Jauh hari Bidang Kepanduan sudah meminta anggota PKS yang ikut kembara berlatih fisik, minimal seminggu 3 kali dengan porsi latihan lari 2 km atau jalan kaki sejauh 3 km. Berlatih ketahanan tubuh dengan push up, sit up, back up hingga squat jump. Kembara itu seperti latihan untuk menguji seberapa tangguh fisik kita. Layaknya perjuangan dakwah yang membutuhkan ketahanan fisik, maka Kembara ibarat miniatur perjuangan itu.

Berbagai agenda sudah disiapkan,dan kontinyu tidak putus. Kembara itu ibarat kita mengamalkan surat Al Insyiroh ayat 7, "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain". Kegiatan dimulai dengan sholat malam, dilanjut subuh berjamaah dan zikir pagi. Kembali lanjut olahraga pagi, break sesaat untuk sarapan pagi, dilanjut dengan materi wawasan nusantara dan keilmuan lainnya, begitu seterusnya sampai malam. Tapi dari semua puncak itu adalah ujian ketahanan fisik dengan longmarch selama lebih dari 15 jam. Menyusuri trek gunung yang Allahu Akbar, yang bagi anggota PKS yang tinggal diperkotaan tidak pernah mendaki gunung, ini jadi ujian luar biasa. 

Mendaki gunung, menyusuri lembah, hujan turun, jalan licin, kepleset, jatuh, menjadi menu lengkap sepanjang perjalanan. Ujian kesabaran juga, sebab dalam longmarch kita harus menjaga keutuhan kelompok perjalanan. Berangkat 10 orang, pulang juga harus 10 orang. Menjadi ujian tersendiri, jika ada anggota kelompok yang sedang sakit atau punya berat badan diatas rata-rata. Sehingga perjalanan menjadi sedikit terhambat karena harus sering istirahat. Sikap dan sifat asli akan terlihat selama perjalanan yang melelahkan. Yang tidak sabaran dengan kondisi kelompok akan berjalan cepat meninggalkan kelompoknya. Yang suka mengeluh akan "ngeromet/ngoceh" sepanjang perjalanan. Sehingga perjalanan yang seharusnya dipenuhi dengan zikir atau tadabbur alam, menjadi ajang keluh kesah. Tapi yang utama dalam Long march adalah kesiapan mental. Jika sejak awal kembara sudah bilang ga sanggup, maka biasanya akan tumbang diawal perjalanan. Ada juga yang awalnya kuat, tapi begitu sudah melewati trek yang menanjak tajam, turunan curam, jalan licin, menyerah di tengah perjalanan. Kena Mental kalo kata anak jaman sekarang. Ada juga yang bahkan sudah hampir mendekati lokasi finish, karena sudah tidak kuat, harus melambaikan bendera putih. 

Bayangkan saudaraku, perjalanan Rasulullah dari Makkah Ke Madinah berjalan kaki. Perjalanan dari Makkah ke Madinah harus melewati jarak yang sedemikian jauh, yakni kurang lebih 400 km. Bisa dibayangkan, betapa beratnya perjalanan itu, ketika jarak itu harus ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu yang amat lama. Longmarchnya kita hanya sepersekian kecil dari jarak tempuh Rasul. Maka kekuatan mental menjadi kunci. Diiringi dengan doa memohon kepada Allah agar dikuatkan menyelesaikan perjalanan yang panjang ini. Sampai kapan? Sampai kita mati, itu saja. Kalau besok kita mati, maka selesai juga tugas kita di dunia ini.

Posting Komentar

0 Komentar