LGBTQ: Dari Sebuah Penyimpangan Menjadi Pembenaran



Oleh: Nabila Huda Utami


Hari ini saya terkejut, ketika berselancar dalam dunia media sosial dan menemukan akun WHO, menjadi pendukung LGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer/Questioning). Kenapa heran sekali, jelas dulu WHO juga yang melakukan penelitian penyakit-penyakit atau bahayanya melakukan hubungan 'maaf' seks dengan sesama jenis sekarang menjadi pendukung dengan dalih semua orang berhak hidup bebas dari diskriminasi dan kekerasan.


Di standar panduan diagnosa Internasional atau International Classification of Diseases (ICD) ke 10, masih menganggap bahwa transgender ini sebuah 'disease' alias penyakit. Ternyata di ICD ke 11, transgender sudah dikeluarkan. Saya yang bertahun-tahun kuliah kesehatan, banyak bersumber dari WHO, namun sekarang seperti ini. Ya bagaimana lagi, karena isinya bukanlah orang-orang Islam yang mengerti akan agama dan larangannya.

Apakah di sekolah sudah tidak diajarkan lagi bila LGBTQ termasuk penyimpangan orientasi seksual, atau bila tidak dikategorikan penyakit, tidak butuh di terapi. Padahal, LGBTQ bisa di terapi/di "treatment".


Sebenarnya bila terjadi akibat kondisi medis/biologi karena kelainan hormonal/genetik bisa diobati dalam dunia kedokteran, sehingga orang tua harus aware perilaku anak yang mendekati perilaku LGBTQ, namun bila orang tua percaya bahwa LGBTQ bukan penyakit dan harus didukung,  bisa jadi si anak tidak mendapatkan terapi yang tepat.


Ada hal lain yang bisa menjadi pencetus kenapa seseorang mengalami orientasi seksual yang berbeda dengan asalnya. Beberapa penelitian menyebutkan ketidakhadiran sosok ayah, sehingga si anak mencatut model peran hanya dari seorang ibu, pendidikan karakter yang salah tentang gender, lingkungan misalnya anak laki-laki dibiarkan bersama main dengan teman perempuan namun tanpa batasan, sehingga anak menirukan semua perilaku si anak perempuan.


Lingkungan apalagi akses media sosial yang sangat mudah, hampir setiap anak atau remaja memiliki perangkat smartphone dan bebas menonton apapun.  Bila di lihat, banyak influencer dengan pengikut jutaan, menampilkan peran utama pria yang menjadi seorang wanita. Dan banyak pendapat-pendapat yang salah tentang LGBTQ.


Semoga bisa menjaga anak-anak kita dari perbuatan kaum Nabi Luth.

Hal lain yang bisa menjadi risiko seseorang memutuskan menjadi transgender adalah ketidakharmonisan dalam keluarga atau broken home. Kekecewaan yang dialami di lampiaskan dengan mengubah identitas gender.


Saya belum tahu bagaimana agama lain memandang LGBTQ, namun Islam secara jelas melarang perbuatan ini.


"Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas" (Q.S. al-A’raf [7]: 81).


"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan fahisyah yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu.” (Q.S. al-‘Ankabut [29]: 28).


Fahisyah diartikan sebagai perbuatan keji atau sangat dibenci, beberapa makna sesuai tafsir al a'raf ayat 80 dan 81 mengartikan sebagai homoseksual. Jelas, Islam sangat melarang perbuatan ini.


BERSIKAP KEPADA LGBTQ

Lalu bagaimana bersikap kepada orang LGBTQ:

Beberapa sumber menyebutkan bahwa penderita LGBTQ memang mendapatkan perilaku tidak menyenangkan di berbagai belahan dunia, bahkan kekerasan. Sedangkan saya percaya bahwa menyampaikan dakwah itu dengan hikmah, bijaksana. 


Pernah mendengar cerita Alm Usyadz Jefri al-buchori (Uje), yang mengajak seorang (maaf) waria makan duduk bersamanya, kemudian si waria bertanya, kok mau sama saya ustadz saya kan waria. Jawab alm Uje " situ kan sama seperti saya" (setidaknya makna kalimatnya seperti ini). Kemudian si waria bertaubat.


Melihat beberapa alasan yang menjadikan seseorang bisa memilih transgender, bisa jadi mereka adalah korban yang harusnya kita rangkul dan secara bijaksana memperlakukan mereka, perlahan memberikan nasihat dan mendoakan mereka. Semoga semua umat muslim terhindar dari perilaku fahisyah.


PENCEGAHAN 

Bagaimana mencegahnya?

Hal-hal yang bisa kita lakukan sebagai orang tua adalah: 

1. Orangtua Harus Peduli Pendidikan Anak.

2. Hadirkan sosok ayah dalam pendidikan.

3. Kontrol media sosial anak.

4. Bekali anak dengan pondasi iman yang kuat.

5. Tunjukkan mana yang salah dan benar.

6. Didik anak bagaimana seharusnya menjadi lelaki atau wanita.

7.   Pilihkan lingkungan yang normal dan perhatikan teman-temannya.

8.  Selalu berkomunikasi dengan guru dan perhatikan juga lingkungan di sekolah.


Peran orang tua sangat penting dalam melindungi anaknya, apalagi dunia semakin tidak terkontrol dengan kefasikan. Semoga kita dikaruniai anak dan keturunan yang soleh dan solehah. Aaamiin. Wallahu a'lamu bisshawab.


Sumber referensi:

1. https://m.republika.co.id/amp/p2fovi396

2.https://www.medcom.id/amp/zNA3j92k-absennya-sosok-ayah-dapat-sebabkan-penyimpangan-orientasi-seksual-anak

3.https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/00332925.2017.1350804

Posting Komentar

0 Komentar