Oleh: Riduan Fauzi
Berawal dari kabar akan adanya silaturrahim Dr. Salim (yang merupakan Ketua Majelis Syura PKS) ke Kalimantan Barat. Saya pun yang berada di Sekadau berusaha penuh harap untuk bisa hadir dalam pertemuannya. Meskipun dari Sekadau ke Pontianak berjarak tiga ratusan kilometer.
Tujuannya satu, untuk mendapatkan nasihat-nasihatnya secara langsung. Pasalnya, selama ini saya hanya bisa mengikuti tausyiah atau taujih nya dari video-video pendek yang dibagikan atau disiarkan langsung secara online.
Namun harapan saya ternyata masih melalui harap-harap cemas. Karena informasi resmi dari wilayah belum jua datang meskipun hari kedatangan Dr. Salim kian dekat.
Barulah kabar resmi dari Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (DPW PKS) datang pada H-2. Menyambutnya, kami dari Sekadau segera menyusun rencana perjalanan menuju Pontianak. Rombongan DPD PKS Sekadau terdiri dari 6 anggota, termasuk saya dan Ketua DPD PKS Sekadau. Dengan mengendarai satu mobil yang langsung disupiri oleh Ketua DPD PKS Sekadau, karena selainnya tak ada yang bisa menyetir.
Kami berangkat lepas Ashar, kira-kira pukul 15.45 WIB. Seperti biasa, mobil melaju di jalanan berkelok, sesekali menyisir sungai Kapuas, dan beberapa titiknya ban mobil mesti menggilas kerikil jalanan yang terburai. Empat jam perjalanan, mobil masih melaju dengan kecepatan sedang. Hingga akhirnya kami harus menghadapi kenyataan, bahwa mobil ban kami telah pecah.
Waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Kami pun berhenti di daerah Ambawang untuk mengganti ban. Ternyata, kami baru sadar juga, bahwa hampir bisa dikatakan kami tak punya pengalaman mengganti ban secara mandiri. Sehingga 30 menit berlalu, tak berhasil juga kami mengganti ban mobil.
Di sinilah saya merasa perlu menulis ini. Pertama sebagai tahadduts bi ni'mah. Kedua sebagai rasa syukur terhadap orang yang telah menolong kami. Semoga tulisan ini sampai kepadanya suatu saat nanti.
Ya, pada akhirnya kami ditolong oleh seseorang yang menghampiri kami. Tak memakan waktu lama, tak lebih 10 menit ban mobil kami pun selesai digantinya. "Pengalaman itu sangat penting," selorohnya disambut tawa kami sekaligus ucapan terima kasih kepadanya.
Kemudian kami pamit kepada bapak yang sudah membantu mengarahkan kami tersebut. Oya, sebenarnya proses penggantian ban tetap kami lakukan bersama-sama. Bapak tersebut membantu mengarahkan, kami mengikuti arahannya. Mulai cara melepas baut, cara mendongkrak mobil, cara mengganti ban, hingga cara mengencangkan baut kembali. Praktis, memang larut malam itu kami mendapatkan ilmu baru dengan praktek langsung bersama seorang pengarah yang berpengalaman.
Mobil kami pun kembali melaju meninggalkan desa tersebut. Tak berselang lama, kami kembali dihantui rasa was-was. Bukan lagi perkara ban, namun perkara dengan pengendara mobil lainnya. Sempat terbersit dalam pikiran kami, "Apakah pengendara itu sedang mabuk?"
"Atau mungkin pengendaranya dari luar Indonesia?" pikir kami lainnya. Karena Mobil yang dijalankannya selalu lewat lajur kanan.
Lampu sen mobil tersebut menyala bergantian, kiri dan kanan. Bahkan jelas dalam pandangan kami, mobil itu hampir tabrakan karena terlalu ke kanan melawan arah.
Sehingga kamipun ragu untuk menyalipnya. Rupanya, meskipun ban kami telah diganti dengan ban yang baru tak otomatis bisa langsung melaju di jalanan. Mudah saja bagi Allah menciptakan kondisi jalanan yang tak memungkinkan kami melaju. Salah satunya dengan adanya pengendara lain yang ugal-ugalan tersebut.
Maka kami memilih bersabar untuk tetap di belakangnya. Dampaknya sudah pasti waktu tempuh perjalanan kami bertambah. Tak terasa, kami baru tiba di Pontianak pukul 01.00 WIB. Jadi perjalanan kami lambat 3 jam.
Namun tetap belum lega. Ternyata kamipun tak langsung bisa ke tempat istirahat. Sebabnya, beberapa penginapan penuh dengan peserta kegiatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Setelah keliling mencari tempat menginap, akhirnya kami mendapatkannya.
Bersyukur, semua penat perjalanan malam dengan beragam kendalanya itu akhirnya tersapu dengan sejuknya taujih pemimpin kami, Dr. Salim. Ahad Siang, 20 November 2022, kami menikmati dua kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan menerima arahan langsung dari Dr. Salim. Kedua, kebahagiaan bersilaturrahim dengan sesama anggota PKS dari kabupaten lainnya.
Sehingga lelahnya perjalanan terbayarkan dengan banyaknya bekal yang dapat kami bawa pulang ke Sekadau. Baik bekal berupa ilmu dari Habib Dr. Salim, maupun bekal nuansa semangat dari sesama saudara seperjuangan yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Terima kasih Habib Dr. Salim. Semoga Allah subhanahu wata'ala tetap menjagamu. Dan semoga Partai Keadilan Sejahtera bisa menjadi partai pemenang di tahun 2024. Aamiin.


0 Komentar