"Ummi, Aku Suka Suasana Toko Buku!"



Oleh : Erry Krisdwianti


"Pulangnya nanti dulu, ya Ummi. Aku suka banget suasana toko buku."


Kalimat gadis yang beranjak remaja  ini membuat gerakan saya terhenti sejenak. Ruang yang sepi mendadak semakin terasa lengang.


Dan semua kemudian berjalan melambat. Yang semula hanya ingin ambil buku ini, terus itu, bayar dan pulang, tiba-tiba terdiam sejenak, lalu semua berubah melambat seperti tiupan angin yang berhembus sangat pelan. Kami susuri rak demi rak buku lainnya, meskipun buku yang kami cari sudah langsung kami dapatkan di bagian "Best seller".


Ah, tidak cukup kalimat untuk menggambarkan perasaan yang saat itu saya rasakan.


Di saat teman-temannya lebih memilih untuk memegang telepon genggam daripada membaca buku, si anak nomor empat saya ini bersikeras meminta buku sebagai hadiah ulang tahunnya.


Dan di saat teman-temannya lebih memilih jalan-jalan di perbelanjaan atau di tempat kuliner yang sekarang menjamur, dia sampai memohon-mohon untuk diantar ke toko buku.


Dan hari itu, setelah sekian pekan berlalu dari ultahnya yang biasanya pun tidak pernah dirayakan, setelah sekian kali saya berjanji, "Besok ya kalau Ummi sedang longgar", saya memaksakan diri  menuruti permintaannya. Mengantarnya pergi ke toko buku, yang sekarang di Yogyakarta hanya tersisa beberapa gelintir saja.


Getir sebenarnya menyaksikan suasana saat itu di dalam ruang besar yang penuh berisi buku. Deretan buku yang ditulis dengan susah payah penuh perjuangan, diterbitkan dengan proses yang tak mudah  dan biaya tak murah, kini semakin sepi peminat.


Oke, mungkin itu  karena beli buku secara daring sekarang jauh lebih mudah. Tapi di sisi lain saya melihat, minat baca masyarakat kita terhadap buku memang rendah. Kalau tidak boleh saya bilang sangat rendah.


Dan memang sudah sampai jamannya, sekarang mencari informasi apapun, bisa lewat gadget. Ingin membaca buku apapun, novel, kumpulan tulisan dan lain-lainnya, bisa melalui dunia maya. Serasa dunia dalam genggaman.


Maka ketika menyaksikan sekarang banyak toko buku fisik berguguran, yang masih hidup pun semakin lengang, buku-buku di dalamnya sebagian ada yang berdebu bahkan berjamur,  saya hanya bisa bersedih dan mencoba menghibur diri, "Memang sudah sampai saatnya harus seperti ini?"


Dan ketika menyaksikan anak gadis saya begitu bahagia dan menikmati suasana berada di toko buku, saya bergumam lirih, "Barangkali ini kelangkaan untuk anak seusianya saat ini."

Posting Komentar

0 Komentar