Jangan Populerkan Sosok yang Bertentangan dengan Nilai Agama dan Pancasila



Oleh: Gufron Azis Fuadi


Belakangan ini ramai dibicarakan netizen seorang tokoh podcast yang mengundang pasangan LGBT untuk tampil di acaranya. Sangat disayangkan memang, karena podcast yang merupakan media informasi dan edukasi masyarakat justru menampilkan pegiat aktif LGBT sehingga berpotensi menyebarkan dan mengedukasi pola hidup yang bertentangan dengan nilai agama dan Pancasila kepada masyarakat luas. Meng-endorse seseorang dalam podcast bisa dimaknai setuju dan mendukung. 


Islam melarang umatnya untuk ikut menyebarkan keburukan dan kemaksiatan kepada khalayak. Baik itu kemaksiatan dirinya maupun kemaksiatan orang lain. 


"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS An Nur: 19) 


Rasulullah SAW bersabda:

"Siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” 

(HR. Muslim). 


Dalam Al Quran Allah juga tidak menyebutkan sosok-sosok pelaku kejahatan dan kemaksiatan, kecuali Qorun dan Abu Lahab. Selebihnya hanya gelarnya saja. Sehingga sampai sekarang  para ahli belum sepakat bulat  tentang siapa nama Firaun yang ditenggelamkan di laut Merah. Karena Al Quran hanya menyebut gelarnya (Firaun) dan tidak menyebut namanya. 


Dalam Al Quran, Allah menceritakan orang-orang kafir dengan: walladzina kafaruu, menyebut orang dzalim dengan dzaalimullinafsih, orang-orang fasiq dengan ulaaika humul faasiquun, dengan bentuk mubham (tidak jelas), agar person-person mereka tidak populer. 


Maka Fir'aun, Kisra, dan Qaishar, tidak disebutkan nama personalnya, tetapi hanya nama gelar raja, bukan nama asli. 

Kecuali, bagi yang memang sudah parah seperti Qarun dan Abu Lahab, itupun juga bukan nama aslinya. 

Nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza. Dan "Lahab" dalam bahasa Arab berarti "api yang menyala-nyala" sesuai firman Allah SWT; 


سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ 


“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka).” (QS: Al-Lahab: 3). 


Tetapi sebaliknya, Allah  mempopulerkan nama-nama nabi, rasul, seperti Adam, Idris, Nuh, Shalih, Ibrahim, Ismail, Musa, dan lainnya, serta orang shalih seperti Maryam, Luqman, Zulqarnain dan Zaid. 


Bahkan Nabi Muhammad SAW sudah diperkenalkan di kitab-kitab terdahulu sebelum kelahirannya. 


Maka, populerkan lah orang-orang shalih dan kebaikannya, orang-orang berilmu dan keilmuannya, walaupun menjadi populer, bukanlah cita-cita mereka. 


Jangan sampai hanya karena  ingin populer atau mendapatkan banyak (pemasukan dari) iklan, kita meng-endorse pelaku kemaksiatan yang jelas dilarang agama dan bertentangan dengan nilai nilai Pancasila. 


Menurut Cambridge Dictionary, arti endorse yaitu untuk membuat pernyataan publik tentang persetujuan atau dukungan.  


Dosa kita sendiri saja mungkin kita tidak sanggup menanggungnya dihadapan Allah, apalagi kalau dosa jariyah. Yaitu dosa yang kita lakukan dan kemudian diikuti (dengan menanggung dosa)  orang lainnya yang ikut mengamalkan dosa yang kita lakukan atau yang kita populerkan secara terus menerus orang terakhir yang melakukannya.

Jariyah itu artinya mengalir, terus menerus. Jadi dosa jariyah adalah dosa yang terus menerus mengalir sampai selama ada orang yang melakukannya atau dampak dari kejahatan atau kemaksiatan tersebut masih dirasakan. 


Rasulullah ﷺ bersabda,”Siapa saja yang menyeru kepada petunjuk, dia baginya pahala dan (mendapatkan) pahala orang-orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.

Dan siapa saja yang menyeru kepada kesesatan, baginya dosa dan (menanggung) dosa orang-orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.”

[Hadits riwayat Muslim di dalam Shahih Muslim no. 2674] 


Jadi kalau kita tidak sanggup mengamalkan perbuatan baik yang Allah cintai maka kita bisa mempopulerkan sosok kebaikan dan perbuatan baiknya. Mudah mudahan kita bisa mendapatkan cipratan kebaikannya. 


Sebaliknya, jangan kita menyebarkan dan mempopulerkan kemaksiatan,  meskipun kita tidak ikut melakukannya tetapi kita ikut kecipratan dosanya karena turut serta menyebarluaskan nya. 


Paling tidak kita jangan kalah dengan Frederick Kanoute pemain bola liga Eropa yang menolak memakai jersey klub yang ada logo rumah judi dan atau minuman keras. 


"Sesuai dengan ayat-ayat suci Al Qur’an, meminum alkohol, berjudi, memuja idola dan lotere adalah alat-alat setan untuk menyesatkan manusia. Mengapa saya meminta klub untuk menyediakan kostum yang bersih dari embel-embel perjudian itu,” kata Kanoute. 


“Saya percaya klub akan merespon permintaan saya ini dengan baik. Jadi, biarkanlah saya memakai kostum tanpa logo itu,” tandas Kanoute. 


Begitulah Frederick Kanoute sepakbola muslim keturunan Mali dan Perancis 


Wallahua'lam bi shawab

Posting Komentar

0 Komentar