Sekitar dua tahun yang lalu ketika Kemah Bhakti Nusantara (Kembara) PKS marak digelar di banyak daerah, menyeruak satu berita, bahwa ada seorang bapak yang sudah berusia lanjut menjadi salah seorang peserta Kembara di Garut, Jawa Barat.
Dari video yang beredar di media sosial terlihat, bahwa bapak tersebut masih enerjik dan penuh semangat saat mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan. Dari ekspresi wajahnya, beliau kelihatan senang bergabung bersama kawula muda PKS. Sepertinya, faktor usia baginya bukan merupakan suatu hambatan, berada diantara anak-anak muda kader PKS. Paling tidak seperti itulah yang terkesan.
Kemudian baru beberapa bulan yang lalu, kembali ada berita, seorang pensiunan kolonel TNI bergabung menjadi anggota PKS. layaknya sebagai seorang yang sudah purna tugas atau pensiun, pasti beliau pun sudah berusia diatas 50 tahun.
Terlepas dari mereka yang berpandangan negatif atas keinginannya untuk bergabung dengan PKS, namun yang pasti beliau termotivasi untuk bergabung dengan PKS setelah cukup lama memperhatikan semangatnya kader-kader PKS dalam membersamai rakyat, lewat aksi-aksi sosial dan kemanusiaan. Begitulah pernyataannya.
Cerita lainnya datang dari seorang ketua DPRa. Saat pileg dan pilpres tahun 2019 yang lalu, sebagai koordinator saksi dirinya mendapat kesulitan untuk menempatkan seorang saksi PKS, pada satu TPS yang berada di lingkungan dimana mayoritas penghuninya adalah warga keturunan. Menurut informasinya, dari pemilu ke pemilu, di TPS tersebut PKS memang tidak pernah mendapatkan suara lebih dari satu suara. Selalu hanya dapat satu suara, yaitu hanya suara saksi.
Mungkin karena faktor tersebut, selain juga faktor lingkungan, sehingga saksi dari kader ataupun simpatisan menjadi enggan ditempatkan di TPS tersebut.
Sampailah pada saat pencarian kandidat calon saksi untuk TPS tersebut. Tak disangka-sangka, qadarullah, ada seorang ibu muda keturunan, warga setempat, menawarkan diri dan siap untuk menjadi saksi PKS.
Pada awalnya memang timbul keragu-raguan. Namun setelah berkonsultasi, ketua DPRa itupun menerima Encik tersebut untuk menjadi saksi PKS. Ternyata ketika pemilu berlangsung, militansinya terbukti sama dengan saksi-saksi PKS yang lainnya.
Selanjutnya ada berita yang terbaru. Merebak kabar, seorang artis komedian Narji juga ikut bergabung dengan PKS. Hatinya tersentuh untuk menjadi anggota PKS, setelah tetangganya yang kader PKS dan berprofesi sebagai tukang kayu, menggantungkan bubur serta obat-obatan di pagar rumah sang artis, ketika mereka sekeluarga terpapar covid.19
Cerita-cerita di atas sebetulnya hanyalah sebagian kecil dari banyak cerita; darimana, apa dan siapa saja mereka yang menjadi simpatisan, pendukung, bahkan anggota ataupun kader PKS. Profesi pekerjaan, pendidikan, agama, ras atau keturunan dan juga umur, bukanlah penghalang bagi seseorang untuk menjadi simpatisan atau anggota PKS. Oleh itu sangatlah pantas jika kita menyebut, PKS adalah partai kita semua.
PKS bukan hanya milik strata atau kasta tertentu saja. Bahkan juga bukan menjadi partainya, khusus hanya anak-anak muda saja. Klaim yang berlebihan bahwa PKS sebagai partai khusus hanya untuk orang muda, mungkin malah akan memberi akibat. Alih-alih ingin menarik simpati, sebaliknya bisa jadi anomali.
Yuk gabung PKS
Klik: daftar.pks.id
Budiono
DPRa PKS Desa Benteng Kecamatan Ciampea
Kabupaten Bogor

0 Komentar