Oleh : A. Hanifa
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)"
(Q.S. 18:109)
Menulis merupakan kegiatan yang membosankan sekaligus menyulitkan bagi sebagian orang. Hmmm ... benar tidak ya?
Ketika timbul keinginan menulis, tekad begitu kuat membaja, tapi banyak yang tidak bertahan dan istiqomah. Saya juga mengalami hal yang sama kok teman-teman!
Walaupun sudah berkali-kali diberi wejangan tingkat akut tentang menulis, terjun di dunia literasi, dan menjadi pengurus organisasi kepenulisan. Tambah lagi motivasi menulis yang tidak tanggung-tanggung dari para penulis terkenal, apalagi coba? Namun, masih saja timbul kemalasan dalam menulis. Alasannya sederhana, tidak punya waktu atau tidak punya ide.
Oleh sebab itu, akhirnya saya menemukan Delapan alasan ter-versi saya ini. Inilah delapan versi yang membuat saya kemudian merenungi. Bahwa, menulis bukan sekedar hobi atau bisnis. Lebih dari sekedar itu! visi-misi yang kita emban saat ini adalah menulis untuk perbaikan.
Inilah delapan versi hasil pencarian tersebut :
1. Termulia
Memposisikan bahwa menulis merupakan bagian dari ibadah _Mardhotillah_ dan _Jihad bil Qalam_. Adakah sesuatu yang lebih mulia dari berjihad dijalan-Nya? Saya memprioritaskan versi pertama ini sebagai nilai pembeda antara penulis yang punya orientasi akhirat versus penulis yang hanya ingin meraup keuntungan semata alias orientasi finansial.
Menulispun terasa tak memiliki beban dan akan bertahan selamanya. Azamkan dalam hati bahwa, "Berhenti menulis, sama dengan berhenti menggapai pahala lewat menulis."
2. Termujarab
Ya, menulis adalah bagian dari penyembuhan atau _Healing_. Menulis akan menjadi hadiah yang meringankan ketika perjuangan terasa berat sekali untuk kita pikul sendirian. Menulis itu menyembuhkan luka batin yang tersimpan.
Dengan menulis, maka seluruh unek-unek yang ingin meledak didalam jiwa, telah kita curahkan diatas kertas atau tersimpan hangat dalam _folder_ maaf pada komputer. Perasaan bersalah dan sakit hati berkepanjangan akan sangat melegakan jika kita mau berbagi kepada para pembaca lewat tulisan.
3. Ter-hero
Kalau dalam Islam, jihad tertinggi adalah jihad qital (perang angkat senjata). Maka, dalam konteks kekinian ketika negara tidak dalam keadaan perang, maka jihad terberat adalah milik mereka yang duduk di parlemen (jihad politik). Tetapi, ancaman paling besar saat ini adalah ‘media lawan.’ Ya, sepertinya kita butuh banyak jurnalis yang gagah berani di medan perjuangan literasi, juga para owner perusahaan media yang bisa tegak lurus menuliskan keadilan untuk kesejahteraan.
Seorang jurnalis menulis pemberitaan yang benar dengan penanya adalah perjuangan. Seorang guru yang menulis, berarti berjuang mencerdaskan anak bangsa. Ilmuwan berbagi pengetahuan atas penelitiannya dalam jurnal-jurnal kontemporer, ia sedang berjuang demi kemaslahatan. Dokter berbagi tips menjaga kesehatan dan sebagainya, adalah niat jihad yang tak ternilai harganya.
4. Tersistem
Menulis berarti kita memprogram otak kita menjadi writing oriented. Bukan sekadar menulis karena hobi atau berkarya ketika mood baik untuk menulis.
Maka, jadikanlah menulis sebagai pilihan hidup. Bukan sekadar mengisi waktu kosong kita, bukan karena sedang butuh uang. Dengan demikian, kita tak perlu mencari-cari alasan untuk bangkit dari sindrom kemalasan menulis.
5. Tercinta
Saya hadiahkan karya ini untuk Allah SWT yang memberikan kenikmatan menulis. Ya, Karena tidak semua orang bisa dan memiliki kesempatan untuk menulis, bukan?
Allah SWT, Rasulullah Saw sebagai tauladan, Al-Qur'an dan sunnah-nya menjadi sumber inspirasi terbaik dalam setiap karya kita tentunya.
6. Tersayang
Telah banyak sekali karya sastra yang lahir diilhami oleh orang-orang tersayang dalam kehidupannya. Miliyaran karya tercipta karena Ibu. Jutaan karya menembus pasar global dengan predikat best seller dikarenakan mengangkat kisah-kasih orang-orang tersayang. Karenanya, saya berterima kasih sekali pada orang-orang tersayang ini.
7. Terkaya
Joanne Kathleen Rowling alias J.K. Rowling, pasti anda mengenalnya, bukan?
Dia pernah berkata, “Saya orang yang luar biasa beruntung, melakukan apa yang paling saya cintai," ungkapnya.
Selain ungkapannya yang sangat inspiratif itu, ternyata penulis best seller yang melambung namanya lewat karyanya "Harry Potter" itu justru memiliki kekayaan yang fantastis. Kabarnya lebih kaya dari ratu Inggris.
Siapa yang tidak ingin jadi milioner, memiliki kekayaan yang akan mendukung kegiatan-kegiatan literasi?
8. Beban Terberat
Saya ingat sekali kata-kata salah satu mentor dalam training kepenulisan nasional, alasan terkuat yang paling membuat kita harus keranjingan menulis adalah beban moral.
Coba kita perhatikan dengan seksama, buku-buku yang dibaca geberasi muda masa kini yang memprihatinkan, tulisan berbau porno yang menjadi konsumsi bertebaran di media-media _online_. Mereka dengan begitu mudah mengakses dan membacanya.
Bayangkan, andai orang-orang baik berhenti menyerukan kebaikan lewat tulisannya, maka tak lama lagi, negeri kita benar-benar dirundung kehancuran.
Bukan kaya, bukan materi, bukan karena ingin terkenal tujuan kita. Melainkan, ada miliyaran manusia yang lebih membutuhkan tulisan-tulisan bergizi yang layak dikonsumsi. Semoga pena kita tak pernah kering menorehkan kebaikan.
Terakhir saya ingin mengutip sebuah pepatah:
"Membaca tanpa menulis, ibarat memiliki harta yang dibiarkan menumpuk. Menulis tanpa membaca ibarat mengeduk sumur yang kering. Tidak membaca dan tidak menulis, ibarat orang tak berharta, jatuh ke dalam sumur penuh air." (Romli, 2009)
Penulis adalah Ketua BPKK DPD PKS Indragiri Hulu 2020-2025
Selamat Hari Literasi Internasional


0 Komentar