“Dapat penugasan di Bali,” ucapnya.
Aku pun terdiam, lidah kelu untuk berkata-kata. Teringat beberapa waktu yang lalu, saat suami mengatakan harus siap ditempatkan di mana pun di seluruh Indonesia, aku berdoa semoga ditempatkan di Jawa, sembari berseloroh kalaupun harus ke luar pulau, Bali saja yang tidak terlalu jauh dan moda transportasinya cukup beragam untuk mudik ke kampung halaman.
Siapa sangka jika lintasan hati itu diaminkan malaikat dan dikabulkan Allah? Sempat terbersit penyesalan, kenapa tidak cukup berdoa mendapat tugas di Jawa saja. Ah, sudahlah. Allah pasti punya rencana yang jauh lebih baik, hibur diriku sendiri. Apalagi, sejak dulu aku punya keinginan untuk menjelajah wilayah Indonesia di timur Pulau Jawa, di mana pesona pantainya teramat memesona bagi anak gunung sepertiku.
Hei! Bisa jadi ini adalah hadiah pengganti karena beberapa bulan sebelumnya batal ikut ke Labuan Bajo karena baru sebulan pasca melahirkan. Ah, ya! bisa jadi. Hadiah lomba yang diharapkan itu tak bisa diambil, ibarat makan sudah di depan mulut tapi tiba-tiba jatuh. Belum rezeki waktu itu, dan inilah cara Allah menghibur diriku, memberikan “hadiah” pindah ke Pulau Dewata mengikuti dinas suami.
Bagaimana nanti di sana, ya? apakah tidak aneh dengan pakaian serba lebar seperti ini? apakah mudah menemukan masjid dan komunitas islam? Bagaimana dengan makanan, apakah bertebaran makanan haram dan susah untuk mendapatkan makanan halal?
Lagi-lagi berbagai kekhawatiran muncul saat tengah menyiapkan kepindahan. Yah, namanya juga pertama kali kami akan hidup mandiri jauh dari orang tua. Selama 5 tahun menikah, kami tinggal di PMI alias Pondok Mertua Indah, di rumah masa kecil suami.
Aku pun mengumpulkan berbagai informasi tentang Bali. Mulai dari permukiman mayoritas muslim, jaraknya dari tempat kerja suami, perkiraan harga kontrak rumah/kos, juga memikirkan sekolah islam untuk anak karena saat itu dia sudah masuk usia TK.
Aku langsung mencari channel orang-orang PKS, karena sudah “kadung tresna” dan merasa nyaman berkomunitas dengan mereka sejak di Kota Semarang, pulang ke kampung halaman di Wonosobo, hingga menikah dengan orang Semarang dan kembali tinggal di sana bahkan menjadi warganya.
“Wah, ternyata di Denpasar banyak juga muslimah yang pakai niqab,” ujarku pada suami saat sore hari berkeliling dengan sepeda motor dan berpapasan dengan muslimah berjilbab lebar atau mengenakan cadar.
“Iya, di sini di masjid besar itu juga selalu ramai, termasuk saat salah subuh,” ujar suami.
Masya Allah, rupanya yang selama ini aku khawatirkan tak terbukti. Banyak orang memakai pakaian ”kurang bahan” hanya di seputaran tempat wisata, terutama pantai. Selebihnya, apalagi di permukiman penduduk dengan mayoritas muslim dengan banyaknya pendatang, kehidupan tak jauh berbeda dengan di Jawa, tempat asal kami.
Setelah kurang lebih dua pekan tinggal di kos di Denpasar, aku pun menghubungi salah satu ustadzah di Denpasar. Waktu itu kudapat kontak beliau dari kakak kelas di Universitas Diponegoro yang pernah tinggal di Bali selama beberapa tahun.
Sambutan hangat kami dapatkan saat silaturahmi ke rumah beliau. Rupanya, suami beliau lah yang saat ini diamanahi sebagai ketua DPW PKS Bali. Sungguh, kulihat pasangan suami-istri ini sebagai pasangan romantis yang menginspirasi. Tokoh yang humble, santun, dan sangat pandai bergaul dengan berbagai kalangan masyarakat termasuk penduduk asli.
Bapak Hilmun Nabi’, sosok yang ramah itu. Ya, beliau lah yang kini menakhodai perjalanan PKS di Bali. Pandanganku tentang syiar islam di Bali khususnya Denpasar pun diaminkan olehnya. Menurut beliau, meski belum secara rutin memantau statistik warga muslim di Bali, tetapi syiar islam berkembang pesat dari tahun ke tahun. banyak relawan muslim, pengajian-pengajian, dan harakah-harakah yang berkembang di Denpasar.
“Semangat kaum muslim untuk menjalankan ibadah terbilang tinggi di sini,” ujar beliau.
Aku pun merasakannya. Orang-orang yang fanatik berlebihan terhadap kelompoknya terbilang jarang. Rata-rata mereka lebih toleran terhadap kelompok lain. Sesama muslim saling mendukung dan bekerja sama.
PKS pun mengalami perkembangan pesat dan diterima di berbagai kalangan masyarakat. Contohnya, saat Pemilu tahun 2019, PKS mencapai suara tertinggi sepanjang sejarahnya berada di Pulau Bali. Meskipun tak mendapatkan kursi di legislatif karena sistem penghitungan suara yang berbeda dibanding pemilu sebelumnya, tetapi hal ini patut diapresiasi. Terlebih kepercayaan masyarakat terhadap PKS pun meningkat.
Bali adalah “wajah kebhinekaan” PKS di Indonesia. ketua DPW dengan 6 orang putra/putri berprestasi ini pun optimis PKS di Bali menjadi “etalase kebhinekaan” seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat. Dalam beberapa kesempatan kegiatan PKS, ada juga penduduk beragama selain Islam yang turut bergabung dan mendaftar sebagai anggota PKS Bali. Tak menutup kemungkinan jika nantinya ada calon legislatif (caleg) dari agama lain, Hindu misalnya, yang tergabung di PKS.
Ya, inilah wujud toleransi sesungguhnya. “Lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”
Saat Hari Raya umat Hindu, kaum muslim menaati aturan, contohnya saat Nyepi, pun jika hari raya Idul Fitri dan Idul Adha tiba, kami bisa melaksanakan ibadah dengan tenang.
Tak dipungkiri, selalu ada gesekan-gesekan kecil yang terjadi, namun selama tak ada yang menyulut api dan menyiramkan bahan bakar, kondisi selalu damai sebagaimana diharapkan.
Allahu a’lam bish shawab,
Denpasar, Agustus 2021
Arina Mabruroh

0 Komentar