![]() |
| PKSfoto/Fatar |
Oleh. Muhammad Zulkifli
Dunia politik adalah dunia giliran, yang hari ini dikuasai oleh kelompok tertentu, untuk kemudian nanti akan dikendalikan oleh kelompok lainnya. Sejak zaman dulu seperti itu, tidak berubah sunatullah yang sudah Allah tetapkan.
Namun bagi seorang penyeru kebaikan, politik adalah alat untuk membumikan ayat-ayat langit. Kekuasaan yang diiringi dengan kebenaran akan menjadi kekuatan untuk menyejahterakan masyarakat, memuliakan manusia, dan menghormati kemanusiaan. Kemenangan politik adalah kemenangan dakwah, bukan kemenangan partai, bukan pula kemenangan oligarki.
Al Qur’an di berbagai ayatnya sudah menjelaskan bahwa kemenangan dakwah harus ditopang dulu dengan infrastrukturnya. Apa saja infrastruktur kemenangan itu?
1. Basis Dukungan
Kisah Nabi Salih, salah satunya, adalah menceritakan betapa pentingnya basis dukungan bagi kemenangan dakwah. Salah satu alasan kenapa kaumnya menolak ajakan beliau untuk beriman kepada Allah SWT adalah karena “pendukungnya adalah orang-orang yang lemah dibandingkan para penentang dakwah” (QS. Al A’raf: 75) . Mereka mengingkari kebenaran yang dibawa Salih hanya karena pendukungnya adalah kelompok marjinal, bukan kelompok “the have”, atau setidaknya golongan bangsawan. Memiliki pendukung yang berasal dari kelompok kuat (baik politik maupun ekonomi) adalah modal dasar dakwah untuk meraih kemenangan.
2. Penguasaan Ilmu Pengetahuan
Orang-orang yang ada di dalam dakwah harus menguasai sains apapun bidang yang mereka geluti. Sebab perjalanan sejarah peradaban menunjukkan betapa merebut kekuasaan itu jauh lebih mudah daripada mempertahankannya. Sebab ketika sudah menggenggam kursi kekuasaan, yang dibutuhkan bukan saja kedigdayaan militer, tapi juga kecakapan dalam mengelola negara. Dan itu butuh para ahli keuangan, statistik, biologi, kemaritiman, perkapalan, penerbangan, geologi, administrasi pemerintahan dll. Bukankah Nabi Yusuf diangkat jadi Menteri Keuangan Mesir, setelah sebelumnya dipenjara, adalah karena penguasaannya terhadap ekonomi khususnya ekonomi makro? (QS. Yusuf : 54-57)
3. Finansial
Kita belajar dari kisah-kisah heroik sahabat Rasululullah saw mulai dari Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Abudrrahman bin Auf dan lainnya yang sedekahnya di luar akal sehat kita sebagai manusia biasa. Mereka tidak saja menyedekahkan seperempat hartanya, bahkan seluruh hartanya. Wajarlah kalau kemudian Allah menurunkan kemenangan dan kemuliaan pada umat Islam di masa kepemimpinan para sahabat. Tidak sedikit ayat-ayat Al Qur’an yang menggambarkan pentingnya berinfak di jalan Allah.
Dalam risalah Majmu’atu Rasa’il, kaum muslim sudah tidak berhak lagi atas jiwa dan hartanya, karena keduanya telah menjadi wakaf bagi kelangsungan dakwah. Ruh dari surah at-Taubah ayat 111 sudah menjadi bagian dari mindset mereka yang hidupnya sudah dipersembahkan untuk jalan Allah SWT.
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
Saat syarat-syarat tersebut bisa dipenuhi, maka kepemimpinan berbasis keimanan akan bisa tercapai selayaknya kerajaan Nabi Sulaiman. Jika salah satunya saja yang baru terpenuhi, misalnya hanya penguasaan akan ilmu yang dimiliki, maka kekuatan dakwah bisa berkoalisi dengan kelompok lain seperti kisah Nabi Yusuf. Dan jika tidak ada yang bisa dipenuhi sama sekali, maka menjadi oposisi seperti Nabi Musa pun tetaplah mulia di sisi Allah, dengan tidak tunduk pada kenginan penguasa yang ingkar pada Allah SWT.
Saatnya secara perlahan tapi pasti mulai membangun infrastruktur kemenangan. Tanpa landasan yang kuat, maka kekuasaan hanya serapuh kayu lapuk.


0 Komentar