Catatan Tentang Perjalanan dari Morowali




Dari sini saya belajar akan pentingnya arti kebersamaan.


Kita butuh yang namanya kesiapan untuk setiap panjangnya perjalanan,

Kita butuh teman sebagai pendamping dikala senang atau bahkan kesusahan,

Kita butuh penunjuk arah untuk menuntun kita agar sampai pada sebuah tujuan, dan

Kita butuh pengemudi yang handal yang siap mengantarkan kita dengan jaminan akan baik-baik saja mulai dari awal keberangkatan hingga sampai diakhir yang namanya tujuan.


Tapi apalah daya seorang diri yang kadang diterpa kantuk, pusing dan mual. 

Berdakwah pun tak cukup sendiri, melainkan kita butuh yang namanya jama'ah.


Juga dari sini saya belajar akan pentingnya menghargai jasa para perintis.

Lelah mereka tak sebanding dengan lelah-lelah yang kita alami sekarang, jalan yang mereka lalui tidak semulus yang kita lalui sekarang, bekal yang mereka bawa tak selengkap dengan bekal kita sekarang, kendaraan yang mereka pakai tidak semewah yang kita gunakan sekarang, tidak sebagus yang kita gunakan sekarang, juga tidak secanggih yang kita gunakan sekarang, dan bahkan waktu yang ditempuh pun tak sesingkat waktu yang kita tempuh sekarang.


Kini saya memahami tentang pentingnya saudara. Sebagaimana pepatah mengatakan,

 رب أخ لم تلد النساء

"Tidak jarang mendapatkan saudara yang tidak terlahir dari satu rahim"


Bertemu dalam ikatan ukhuwah dan ketaatan, tentu semua ingin memberikan yang terbaik walaupun dirinya sendiri penuh dengan keterbatasan, penuh dengn kekurangan.


Hingga akhirnya pun saya  belajar akan pentingnya  tempat persinggahan, dan pentingnya tempat peristirahatan ialah masjid.


Dari awal hingga akhir tidaklah ada saya menemukan tempat yang sejuk, nyaman dan aman, kecuali masjid.


Citrawan Kisman Djiho

Sekretaris DSW PKS Sulawesi Tengah

Posting Komentar

0 Komentar