Nyatanya Kita Butuh Terus Bersama

PKS Yogyakarta


Saat itu aku duduk di stasiun kereta. Menikmati suasana, sembari menunggu waktu berlalu hingga jam keberangkatanku tiba.

 

Aku duduk, memainkan gawai, sempat jua bercengkrama dengan orang-orang sekitar.

 

Melihat asyik riuh orang-orang yang naik dan turun dari kereta, menyaksikan puluhan hingga ratusan wajah  dengan mimik yang beraneka,  sedikit terburu, cemas, bahagia, datar dan lain sebagainya, entah yang keluar atau baru akan memasuki gerbong.

 

Hingga akhirnya semua pintu gerbong ditutup. Petugas stasiun memberikan  tanda keberangkatan, beberapa detik kemudian, perlahan kereta berjalan meninggalkan. Riuh menghilang, hening kemudian.

 

Di saat keheningan memberikan nuansanya. Saat ribuan pasang mata meninggalkannya. Tetiba saja, aku melihat beberapa orang berjalan, mengenakan seragam oranye kombinasi biru, khas PT KAI, sepatu lapangan, lengkap dengan helm keamanan serta beberapa alat-alat kerja yang mereka gunakan.

 

Mataku terus memperhatikan, ketika langkah mereka terhenti, lalu sejenak berdiri, tepat di atas batu-batu kerikil. Di atas lintasan kereta yang barusan pergi. Tak tahu pasti  apa yg sebenarnya mereka lakukan.

 

Tapi yang pasti, mereka sedang memainkan alat kerjanya yang entah apa namanya. Sepertinya memperbaiki kerusakan atau  mungkin sekeder ngecek, memastikan semua lintasan rel dalam kondisi yang baik-baik saja. 

 

Intinya, mereka sedang bekerja untuk  memastikan bahwa kereta yang lewat bisa berjalan dengan aman dan nyaman. Sebab,  kereta- kereta itu yang ditumpangi oleh para ayah yang ditunggu anaknya pulang, oleh  anak-anak yang sudah tak sabar melihat kampung halaman, oleh para ibu dan bapak yang sedang mengantarkan cucunya para kakek & nenek, dan oleh orang-orang yang tentu begitu mengharapkan kereta bisa berjalan aman dan nyaman hingga tujuan.

 

Yah, mereka bekerja untuk 'memastikan'. Akhirnya, dengan rentan waktu yang tak begitu lama, mereka menyudahi pekerjaan barusan. Kembali berjalan dan meninggalkan. Dan tak lama jua, suara kedatangan kereta dibunyikan. Riuh, hingar bingar, kembali bermunculan. Dan aku sudah tak melihat mereka-mereka lagi yang bekerja untuk 'memastikan'.

 

Aku tak memandang lagi, mereka-mereka yang selama ini telah berjuang, yang memiliki peran besar tapi tak pernah diperbincangkan. Aku  yang kemudian, menaiki kereta yang berikutnya datang, memasuki ruang  berAC, duduk bersandar dan merebahkan, sesekali melihat layar monitor di depan, atau lebih sering melihat di balik jendela yang kala itu gerimis sedang datang, indah nian pemandangan di sepanjang perjalanan. Bebungaan aku potret, bahkan masih ku simpan hingga sekarang.

 

Tapi, hingga sekarang apakah pernah aku sampaikan 'terimakasih' pada mereka, yang telah memastikan lintasan kereta baik-baik saja. Nyatanya tidak, tapi yang aku tahu orang-orang seperti mereka masih terus ada. Dan masih terus bekerja untuk ‘memastikan’ meski keheningan adalah kawan dalam menunaikan.

 

Bekerja dalam Hening

 

Seperti mereka yang bekerja dalam hening, begitu berperan namun jarang diperbincangkan. Tapi itu adalah salah satu hal yang sangat dibutuhkan. Sangat menentukan. Siapkah kita jika demikian? Menjadi bagian yang mungkin ‘tak akan diperbincangkan.’

 

*

 

Dalam konteks kita sekarang. Mungkin kita akan dihadapkan dengan peran-peran di balik layar. Bekerja dengan totalitas, merancang pertunjukkan. Tapi kita tak ikut ditunjukkan. Menghadirkan penampilan yang mengesankan, tapi tepuk tangan tak kita didapatkan.  Sekali lagi, maukah jika demikian?

 

Begitulah peran-peran para pejuang keheningan. Peran-peran para Gurunda yang tak memilih berhenti untuk membina murid-muridnya. Peran peran para murabbi yang tak henti mendidik meski riuh telah pergi.

 

Mereka yang bekerja untuk menyapa kita. Bertanya soal kabar diri dan keluarga kita, bertanya soal gelisah apa yang sedang dirasa kita. Bertanya untuk memastikan bahwa kita sedang baik-baik saja.

 

Lalu mereka yang diam, memandangi diri-diri yang terus berujar, mereka mendengar. Sedang kita tanpa sadar, menuangkan satu, dua, tiga, ratusan, atau bahkan ribuan kata.

 

Mereka bekerja dengan begitu gigih. Biarpun lelah atau pun letih. Energi fisik mereka bagi, kelapangan hati pun tak dipungkiri, soal isi dompet apalagi, meski kadang berat atau ringan, mereka  mengambil satu dua tiga lembar  warna ijo, biru, atau merah untuk sekedar menyambut kita yang rasanya masih butuh banyak asupan 'gizi'.  Nyatanya, mereka terus bekerja, mendidik kita yang kadang merespon pesan WAnya pun begitu lambat, atau bahkan dibiarkan mengendap.

 

Tapi tetap saja, ia akan berkirim pesan, "Assalamualaikum, sehat? Yuk main ke rumah..."

 

Setelah kau respon dan kau datangi rumahnya. Nyatanya yang dibahas bukan  soal keperluannya, tapi keperluan kita. Bukan soal hidupnya, tapi hidup kita, bukan soal masa depannya tapi masa depan kita. Agar semua berjalan nyaman sesuai  lintasan, selamat hingga tujuan. Surga nan indah.. aamiin

 

 

Mengapa Mereka Terus Membina?

 

Kadang ada tanya atau bahkan curiga, mengapa hingga sekarang mereka masih juga membina, berkirim pesan ke kita. Meski kadang juga tak ada balasnya.

 

*

 

Tapi perlahan pertanyaan  itu terjawab sudah. Pada suatu malam, kudapati sebuah pernyataan dari salah seorang Gurunda, kata beliau, "Jangan pernah merasa tua di dalam dakwah!" begitu kurang lebih.

 

Lalu berikutnya, kudengar juga, 

"Jangan sekali-kali menolak jika ada tawaran kebaikan dan takutlah kalau peluang amal kebaikan menjauh dari kita."

 

"Para pejuang terlatih untuk mengambil keutamaan bukan dispensasi," tegas beliau.

 

*

 

Ada yang bertanya kepada Ibnul Mubarak rahimahullah:

لو قيل لك لم يبق من عمرك إلا يومٌ ما كنتَ صانعا

“Seandainya dikatakan kepada anda bahwa usia anda hanya tersisa satu hari lagi. Apa yang akan anda lakukan?”

 

Maka Beliau pun menjawab :

كنت أُعلّم الناس

"Aku akan mengajarkan ilmu (agama) kepada manusia!"

_______

📚 Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Madkhal 1/309 no. 473

 

Begitu, cuplikan tulisan salah seorang Gurunda kami. 

 

*

 

Jujur saja itu mengingatkan ku dengan pesan seorang Gurunda lainnya. 


"Biar pun besok tunggangan kita sudah Alphard, kita tetap harus mau lesehan untuk membina dan dibina," 


begitu kurang lebih yang aku tangkap.

 

Yah, nyatanya memang, apapun kondisinya, seberapapun usianya. Kita tetap butuh bersama. Berjalan dalam dalam dakwah, menua bersama kebaikan, membina dan dibina. Semoga surga menjadi ujung kebersamaan kita. Aamiin

 

Yogyakarta, Februari 2021

 

Oleh: Mas Tri Yogyakarta

Posting Komentar

0 Komentar