Header Ads

Menggarap Segmen Komunitas


Eko Jun

Di internal PKS, dakwah kepada masyarakat umum terwakili dalam konsep Rabthul Am. Dimana masyarakat diharapkan bisa berinteraksi, memberi dukungan dan memberikan pembelaan. Syukur bisa ikut bergabung dalam barisan dakwah. Namun dalam prakteknya dilapangan, ditemui sejumlah kekakuan dan kegagapan untuk melaksanakan konsep rabthul am. Kegiatan berupa bakti sosial dan tanggap bencana memang memiliki imbas positif, namun dirasa belum cukup efektif untuk dikonversi menjadi basis dukungan suara.

Salah satu alternatif untuk memicu gelombang dukungan adalah dengan menggarap segmen komunitas. Ada banyak segmen komunitas yang menghubungkan dan mengorganisir elemen masyarakat satu sama lain. Bisa berdasarkan hobi, profesi, pekerjaan dll. Urusan ini bukannya belum pernah disentuh oleh kader PKS, namun umumnya masih elit. Alias jumlah anggotanya tidak banyak, cenderung homogen, berasal dari kelas ekonomi tertentu, seperti komunitas penulis, komunitas pengusaha, komunitas pengajian dll. Kader PKS masih belum banyak berhubungan dengan segmen komunitas yang jumlah anggotanya banyak, karakternya heterogen, sebaran demografisnya luas dll.

Tidak ada pilihan, kader PKS harus didorong agar mau berinteraksi dengan banyak segmen komunitas ditengah masyarakat. Komunitas pecinta burung, manching mania, sepeda onthel, serikat buruh, rhomania dll. Disini akan diuji bagaimana kualitas kader PKS yang sesungguhnya, yakni sejauh mana kehadirannya mampu mendinamisasi, mengakselerasi dan memberi kontribusi positif didalam komunitas tersebut. Syukur jika kita bisa memfasilitasi kegiatan dan bahkan membinanya. Kalaupun tidak, memberi warna yang baik dan kesan yang positif sebagai anggota biasa pun sudah bisa menjadi kredit poin.

Kami membayangkan, manuver dan kegiatan para kader PKS semakin massif dengan kegiatan - kegiatan diluar masjid dan majelis taklim. Itulah cara jitu untuk merebut dukungan masyarakat dan memenangkan kontestasi politik. Kita pun akan selamat dari berbagai tufuhan miring seperti merebut masjid dan jama'ah didalamnya, tuduhan politisasi ayat dan agama, tuduhan sebagai kelompok islam radikal dan garis keras. Lagian, jumlah mereka yang ada dipasar, dijalan dan dilapangan jauh lebih banyak ketimbang mereka yang ada dimasjid dan majelis taklim. Bukan begitu?

No comments:

Powered by Blogger.