Menjadikan Kader yang Dirindukan Masyarakat



oleh: Iwan Setiawan*

Keberadaan dengan Segala Potensi Kebaikan Setelah Melewati Masa Pembinaan, Diharapkan Menjadi Problem Solver di Tengah Kehidupan Bermasyarakat


Tiga hari dua malam di Gunung Periuk Nangkub, Kabupaten Serang, bukan sekadar tentang tidur di tenda, menahan dingin malam, berjalan bersama, atau mengikuti rangkaian kegiatan Kemah Bela Negara.


Bagi saya, Kembara kali ini adalah perjalanan untuk melihat kembali ke dalam diri.


Di tengah suasana alam yang jauh dari kenyamanan rumah, kami para kader dewasa Banten Barat berkumpul. Ada wajah-wajah dari Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Kota Serang, Pandeglang, hingga Lebak. Usia dan pengalaman kami berbeda-beda. Tetapi malam itu kami duduk dalam ruang yang sama, membawa satu hal yang mungkin serupa: keinginan untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik.


Salah satu sesi yang paling membekas bagi saya adalah ketika Ketua DPW PKS Banten, HM. Najib Hamas, S.E., M.E., memberikan pembekalan tentang kepemimpinan.


Saya kira beliau akan banyak berbicara tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin.


Ternyata, yang lebih banyak saya dengar justru tentang bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat.


Ada satu pesan yang terus terngiang dalam pikiran saya:


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”


Kalimat itu terasa berbeda ketika didengar setelah tiga hari menjalani kehidupan bersama di alam terbuka.


Perubahan, kata beliau, tidak cukup hanya diharapkan.


Ia harus dimulai dari orang-orang yang hidup di dalam lingkungan tersebut.


Jika kita berharap masyarakat menjadi lebih baik, maka harus ada orang-orang yang bersedia memulai kebaikan itu dari dirinya sendiri.


Dan di situlah saya mulai bertanya kepada diri sendiri:


Setelah bertahun-tahun mendapatkan pembinaan, apa yang sudah berubah dari diri saya?


Pembinaan yang panjang tentu bukan sekadar tentang berapa lama seseorang mengikuti kegiatan. Bukan pula tentang berapa banyak materi yang sudah didengar.


Pembinaan seharusnya membuat seseorang semakin matang dalam berpikir, semakin kuat ketika menghadapi persoalan, semakin luas dalam melihat kehidupan, dan yang paling penting, semakin besar kesediaannya untuk memberi manfaat.


Saya teringat kembali perjalanan pembinaan yang telah saya lalui.


Ada di antara kami yang sudah sepuluh tahun mengikuti proses pembinaan. Bahkan ada yang sudah dua puluh tahun.


Waktu yang tidak sebentar.


Maka pertanyaannya menjadi semakin sederhana, sekaligus semakin dalam:


Apakah perjalanan panjang itu sudah membuat keberadaan kita semakin berarti bagi masyarakat?


Sebab masyarakat tidak selalu membutuhkan orang yang pandai berbicara.


Masyarakat membutuhkan orang yang hadir ketika dibutuhkan.


Ketika ada persoalan, ikut mencari jalan keluar.


Ketika ada kesulitan, ikut meringankan.


Ketika ada bencana, turun membantu.


Ketika ada anak muda yang membutuhkan pendampingan, hadir untuk mendengarkan.


Ketika ada persoalan di lingkungan, tidak hanya mengeluh, tetapi ikut memikirkan solusinya.


Saya kemudian memahami satu kalimat yang disampaikan dalam pembekalan itu:


Jadilah problem solver, bukan problem maker.


Sederhana.


Tetapi ternyata tidak mudah.


Menjadi problem solver berarti kita harus belajar memahami sebelum menghakimi. Mendengar sebelum berbicara. Bekerja bersama sebelum merasa paling mampu. Dan yang tidak kalah penting, bersedia menggunakan apa pun potensi yang kita miliki untuk membantu menyelesaikan persoalan di sekitar kita.


Setiap orang mempunyai potensi yang berbeda.


Ada yang memiliki ilmu.


Ada yang memiliki pengalaman.


Ada yang memiliki kemampuan memimpin.


Ada yang memiliki keterampilan komunikasi.


Ada yang memiliki jaringan.


Ada yang kuat dalam kerja-kerja sosial.


Ada yang mungkin sederhana, tetapi memiliki hati yang selalu tergerak ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan.


Semua itu adalah potensi kebaikan.


Dan potensi akan menjadi lebih bermakna ketika dikolaborasikan.


Mungkin inilah salah satu makna kepemimpinan yang saya tangkap dari pembekalan malam itu.


Kepemimpinan tidak selalu dimulai dari posisi. Kepemimpinan dapat dimulai dari kepedulian.


Seorang pemimpin bukan hanya seseorang yang berada di depan barisan.


Kadang ia berada di samping, menemani.


Kadang berada di belakang, mendorong.


Dan kadang justru berada di tengah masyarakat, mendengarkan persoalan yang mereka hadapi.


Jika suatu hari ada di antara kami yang mendapatkan amanah sebagai pejabat publik, maka ruang pengabdiannya tentu menjadi lebih luas. Kebijakan yang dibuat dapat memberikan pengaruh kepada kehidupan banyak orang.


Tetapi saya belajar satu hal: jabatan hanyalah alat.


Yang membuatnya bermakna adalah bagaimana amanah itu digunakan untuk menghadirkan perbaikan.


Kemudian ada sebuah momen yang sampai sekarang masih saya ingat.


Beliau bertanya kepada kami:


“Apakah Islam ada di hatimu?”


Serentak kami menjawab:


“Ada!”


Tiga kali.


Kemudian beliau bertanya lagi:


“Apakah Pancasila ada di hatimu?”


Kami menjawab dengan suara yang sama.


Lalu:


“Apakah iman ada di hatimu?”


Jawaban kembali menggema.


“Ada! Ada! Ada!”


Lalu pertanyaan terakhir:


“Di mana?”


Tanpa dikomando, kami menjawab:


“DI SINI!”


Tangan menepuk dada masing-masing.


Saya tersenyum.


Tetapi setelah itu justru terdiam.


Sebab saya menyadari, mengatakan “di sini” adalah perkara mudah.


Yang jauh lebih sulit adalah membuktikannya dalam kehidupan sehari-hari.


Apa yang ada di hati harus terlihat dalam tindakan.


Keyakinan harus melahirkan akhlak.


Ilmu harus melahirkan manfaat.


Pembinaan harus melahirkan pengabdian.


Dan kepemimpinan harus melahirkan pelayanan.


Mungkin itulah pekerjaan rumah yang sebenarnya kami bawa pulang dari Gunung Periuk Nangkub.


Bukan hanya membawa cerita tentang Kembara.


Bukan hanya membawa kenangan tiga hari dua malam.


Tetapi membawa pertanyaan yang akan terus mengikuti kami ketika kembali ke tengah masyarakat:


Apakah keberadaan saya membawa kebaikan?


Karena saya mulai percaya, ukuran keberhasilan seorang manusia bukan semata-mata seberapa tinggi kedudukannya, seberapa banyak orang mengenalnya, atau seberapa sering namanya disebut.


Barangkali ukuran yang lebih sederhana adalah:


Apakah ketika kita datang, orang merasa lebih tenang?


Apakah ketika kita bekerja, persoalan menjadi lebih ringan?


Apakah ketika kita pergi, kebaikan yang kita tinggalkan masih terasa?


Dan pada titik itulah saya memahami arti menjadi seseorang yang dirindukan masyarakat.


Bukan karena kita memiliki jabatan.


Bukan karena kita memiliki pengaruh.


Tetapi karena keberadaan kita menghadirkan manfaat.


Masyarakat mungkin lupa pada banyak kata yang pernah kita ucapkan.


Tetapi mereka akan mengingat tangan yang pernah membantu.


Mereka akan mengingat orang yang datang ketika mereka kesulitan.


Mereka akan mengingat seseorang yang mau mendengarkan ketika mereka tidak tahu harus bercerita kepada siapa.


Dan mereka akan mengingat orang-orang yang membuat kehidupan di sekitarnya sedikit lebih baik.


Maka, setelah tiga hari dua malam ditempa oleh alam, kebersamaan, kedisiplinan, dan pembekalan kepemimpinan, saya pulang membawa satu tekad sederhana:


Semoga setelah ini saya tidak hanya menjadi orang yang lebih kuat untuk menghadapi kehidupan, tetapi juga menjadi orang yang lebih berguna bagi kehidupan orang lain.


Sebab pada akhirnya, perjalanan pembinaan bukan tentang berapa lama kita ditempa.


Tetapi tentang apa yang lahir dari diri kita setelah ditempa.


Dan semoga suatu hari nanti, ketika masyarakat melihat keberadaan kita, mereka tidak bertanya,


“Dia siapa?”


Tetapi dengan tulus berkata,


“Syukurlah dia ada di sini.”


*Penulis adalah Kabid Komdigi DPW PKS Banten

Posting Komentar

0 Komentar