Ada satu bagian kecil dalam pidato Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR, DPR, dan DPD, pada Jumat (14/8/2026) lalu yang menurut saya menarik untuk direnungkan.
Ketika waktu
mulai mendekati shalat Jumat, Presiden sempat bercanda:
“PKS sudah
melirik-lirik.”
Hanya beberapa
kata. Ringan, bahkan mengundang senyum.
Tapi coba kita
lihat dari sisi lain.
Di tengah pidato
resmi kenegaraan yang membahas begitu banyak persoalan bangsa, ketika Presiden
ingat waktu shalat, yang terlintas justru PKS.
Kenapa?
Mungkin karena
sudah ada kesan yang melekat:
Kalau sudah masuk
waktu shalat, PKS mulai melirik jam.
Bagi saya, ini
bukan sekadar candaan. Ini adalah gambaran bahwa sebuah kebiasaan baik, ketika
dilakukan terus-menerus, akhirnya menjadi sesuatu yang diingat orang.
Dan itu tentu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba.
Maka bagi kader PKS di mana pun berada, terutama yang hari
ini mendapat amanah sebagai pejabat publik, ada pesan sederhana: rawat kesan
baik itu.
Kalau azan terdengar, berhentilah sejenak. Tinggalkan rapat,
pekerjaan, atau kegiatan yang sedang berlangsung. Shalat bisa selesai dalam beberapa menit,
sementara kesibukan dunia selalu bisa dilanjutkan.
Begitu pula dengan amanah jabatan.
Masyarakat tentu berharap pejabat PKS tetap dikenal bersih,
peduli dan profesional. Dan lebih dari itu, mampu menempatkan diri sebagai negarawan
orang yang ketika mengambil keputusan memikirkan kepentingan rakyat, bangsa dan bangsa.
Termasuk dalam hal sederhana seperti amplop.
Semoga tetap ada kesan:
“Kalau pejabat PKS, jangan sembarang kasih amplop. Kalau
tidak jelas asal-usul dan halal-haramnya, bisa ditolak.”
Mungkin bagi sebagian orang itu hal kecil.
Tetapi justru dari hal-hal kecil seperti itulah integritas
terlihat.
Karena menjadi pejabat bukan hanya tentang berani mengambil
keputusan besar. Kadang ukurannya justru terlihat ketika seseorang mampu
berkata “tidak” pada sesuatu yang sebenarnya bisa saja ia terima.
Itulah mengapa
candaan Presiden tadi layak kita jadikan cermin.
Jangan hanya
bangga karena nama PKS disebut.
Jaga alasan
mengapa nama itu disebut.
Pertahankan
kebiasaan baik yang sudah menjadi kesan.
Bersih dalam amanah.
Peduli kepada masyarakat.
Profesional dalam bekerja.
Negarawan dalam mengambil keputusan.
Dan taat ketika panggilan Allah terdengar.
Sebab nama baik tidak dibangun dalam sehari.
Ia tumbuh dari sikap yang terus dijaga, dari
keputusan-keputusan kecil yang mungkin tidak pernah masuk berita, tetapi
diam-diam diperhatikan orang.
Mungkin candaan “PKS sudah melirik-lirik” hanya berlangsung
beberapa detik.
Namun semoga
pengingatnya jauh lebih panjang:
Kepercayaan masyarakat adalah sesuatu yang mahal.
Sekali tumbuh,
rawatlah. Jangan sampai kita sendiri yang merusaknya.


0 Komentar