oleh: Enjang Anwar Sanusi
Semalam saya ikutan ngobrol bareng politisi muda Senayan, Bang Muhammad Kholid. Bahas sedikit tentang pemilu 2029. Menurutnya Pemilu 2029 nanti bukan hanya arena pertarungan gagasan antar kandidat politik, tetapi juga pertempuran teknologi digital. Ancaman terbesar yang kini membayangi stabilitas demokrasi kita bukan lagi sekadar politik uang atau kampanye hitam konvensional, melainkan manipulasi digital tingkat tinggi bernama deepfake. Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) kini mampu menciptakan realitas foto atau video palsu yang nyaris tidak bisa dibedakan dari aslinya, dan dampaknya di dunia nyata sangatlah destruktif.
Kasus Sri Mulyani sebagai Peringatan Keras
Tragedi disinformasi yang menimpa mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, tahun lalu menjadi preseden buruk yang harus dijadikan pelajaran. Waktu itu beredar video manipulasi yang terlihat dan terdengar sangat meyakinkan.
Dalam video rekayasa tersebut, sosok yang secara visual dan vokal sangat identik dengan Sri Mulyani direkam melontarkan pernyataan yang sangat provokatif: "Guru adalah sumber masalah." Pernyataan ini jelas dirancang secara khusus untuk menyentuh sentimen emosional publik, mengingat posisi guru yang sangat dihormati di tengah masyarakat Indonesia.
Video beredar luas dengan cepat di berbagai platform media sosial. Kecepatan sebaran jauh lebih cepat dari kemampuan otoritas dalam melakukan klarifikasi dan pengecekan fakta (fact-checking). Publik yang terlanjur menelan informasi mentah-mentah langsung tersulut emosi. Banyak yang tidak menyadari bahwa video tersebut sepenuhnya adalah hasil rekayasa algoritma AI, bukan pernyataan asli menteri keuangan lintas presiden tersebut.
Dampak dari fitnah digital ini tidak berhenti di kolom komentar media sosial. Kemarahan virtual bertransformasi menjadi aksi anarkis di dunia nyata. Massa yang terprovokasi oleh video deepfake akhirnya menggeruduk kediaman Sri Mulyani. Peristiwa ini membuktikan bahwa hoaks yang diciptakan oleh AI bukan sekadar gangguan digital, melainkan ancaman langsung terhadap keselamatan nyawa dan keamanan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Membayangkan Kekacauan di Pemilu 2029
Berkaca dari insiden tersebut, kita menghadapi tantangan yang luar biasa berat menjelang Pemilu 2029. Jika tokoh sekaliber menteri saja bisa dengan mudah dijadikan target pembunuhan karakter yang berujung pada persekusi fisik, bayangkan kekacauan yang bisa terjadi selama masa kampanye nanti?
Dalam bayangan saya, akan ada beberapa deepfake yang mungkin terjadi. Misalnya ada adu domba antar kubu. Pembuatan video palsu dari kandidat tertentu yang seolah-olah menghina agama, suku, partai politik atau golongan lain untuk memicu konflik horizontal.
Deepfake juga kemungkian diproduksi untuk membuat pemilih bingung. Jagat maya akan dipenuhi informasi palsu yang membuat masyarakat apatis dan kehilangan kepercayaan terhadap penyelenggara pemilu, partai politik dan kandidat caleg hingga capres.
Yang paling ngeri, misalnya terjadi di hari pemungutan suara. Munculnya audio atau video palsu dari otoritas pemilu yang seolah-olah mengumumkan penundaan atau kecurangan secara tiba-tiba.
Ini alarm. Pemerintah harus serius memikirkan solusi dan mitigasinya. Kita sebagai rakyat pemilik hak suara juga harus terus meningkatkan kemampuan literasi dalam mengidentifikasi audio, video, juga screenshot media massa.
Real atau deepfake?


0 Komentar