oleh: Ya’Asurandi
Mahasiswa Magister Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Dalam dunia politik yang
penuh drama, Teori Panggung Politik Erving Goffman kemudian dikenal sebagai
dramaturgi, konsep ini menganalogikan interaksi politik sebagai panggung
teater. Ada panggung depan sebagai tempat pencitraan publik dan panggung
belakang sebagai realita privasi, ruang rahasia para politisi itu. Berdasarkan
data FIFA, sebanyak 6.810.966 orang penonton menyaksikan langsung di stadion selama
pertanding Piala Dunia 2026, dengan total 104 pertandingan maka rata rata
jumlah penonton mencapai 65.490 orang sedangkan pada laga final jumlah penonton
yang hadir di stadion Metlife sebanyak 80.633 orang sedangkan Negara pemegang
hak siar Piala Dunia 2026 sejumlah 175 Negara. Tentunya ini panggung yang
sangat besar dan penuh kemilau sorot kamera, bagi kalangan politisi hal ini
sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan maksimal, mari kita analisi lebih
dalam.
Selama
ini FIFA menegaskan bahwa sepak bola harus terlepas dari intervensi politik.
Namun, realitas menunjukkan bahwa batas antara olahraga dan politik semakin
sulit dipisahkan, banyak hal yang terjadi patut kita amati. Biasanya, trofi piala
hanya diserahkan oleh presiden FIFA tapi pada Piala Dunia 2026 ini terasa tidak
biasa dikarenakan Negara tempat penyelenggaraan partai final Presidennya turut
serta menyerahkan langsung trofi kepada Juara. Bukan Donald Trump namanya jika
tidak menghadirkan kontroversi, pada prosesi penyerahan piala, Trump bersama
Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkan trofi kepada Kapten Spanyol, Rodri. Sebelumnya Trump membantu Presiden FIFA
memasangkan medali kepada para pemain Argentina dan Spanyol. Presiden Meksiko
Claudia Sheinbaum dan Perdana Menteri Canada Mark Carnei sebagai wakil dari
Negara Negara Tuan Rumah bersama Amerika di Piala Dunia 2026 ini hanya berdiri
disebelah kiri Trump dan menjabat tangan para pemain, lucunya setelah
penyerahan trofi, Trump tetap bersikukuh berada di podium dan berdiri disamping
para pemain Spanyol yang sedang merayakan dengan mengangkat trofi juara bersama
tim Spanyol sebagai seremonial.
Dapat dibayangkan betapa muaknya penonton
yang sebelum prosesi penyerahan trofi, ketika Trump berjalan menuju panggung
saja, penonton sudah bersorak meneriaki Trump, bahkan Laporan Gedung Putih
mencatat tingkat kebisingan stadion meningkat dari 78 desibel menjadi 84
desibel ketika itu, apalagi melihat sikap Trump selama dan paska penyerahan
trofi juara tersebut.
Masyarakat
dunia terbelah pada final piala dunia ini, kampanye dukungan kepada Palestina
maupun Israel gencar dilakukan, bahkan narasi narasi yang berkembang menjadi
liar dengan mengklaim bahwa dukungan kepada Argentina berarti mendukung Zionis,
sedangkan mendukung Spanyol berarti pendukung Palestina. Padahal dukungan kepada
klub atau Negara Tim Sepakbola seringkali jauh dari urusan dan pilihan politik
tapi pada Piala Dunia 2026 ini urusan dukung mendukung ini menjadi tidak
sederhana. Sepakbola adalah olahraga, seharusnya menjadi hiburan tapi dikala
aspirasi politik dibungkam, keadilan dianak tirikan, mereka yang ditindas dan
terzalimi kehilangan suaranya untuk melawan maka sepakbola adalah panggung
politik yang tepat sebagai media menyuarakan keadilan karena sepakbola adalah
olahraga paling populer di dunia ini.
Menilik kebelakang menjelang Final Piala Dunia 2026, Duta Besar
Argentina untuk Israel yaitu Axel Wahnish pamer video dia ketika memberikan
hadiah kaus jersey resmi tim Lionel Messi cs kepada Perdana Menteri Israel
Benjamin Netanyahu, hadiah itu diberikan sebagai ucapan terima kasih Argentina
atas dukungan Netanyahu kepada Argentina untuk menjadi juara Piala Dunia 2026,
hal ini tentu menarik perhatian publik karena tidak berkaitan dengan Lionel
Messi. Netanyahu sendiri menegaskan
bahwa dia mendukung Argentina karena Presiden Javier Milei. Menurutnya, Milei
merupakan teman sejati, teman yang hebat sahabat sekaligus salah satu pendukung
terbesar bagi Israel. Tentunya Netanyahu
berharap, jika Argentina menang Piala Dunia 2026 ini, partai Likud dan dirinya
bisa tetap popular dan terjaga elektabilitasnya menjelang Pemilu Israel Oktober
2026 ini.
Pemerintah
Argentina dibawah Presiden Javier Milei menjadikan Israel sebagai sekutu
utama, hal ini dikarenakan kedekatan
ideologis dan persahabatan pribadi antara Presiden Javier Milei dan Perdana
Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Hubungan diplomatik Israel dan Argentina sebenarnya telah
dimulai sejak 1949, hanya setahun setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaannya
sebagai negara. Salah satu faktor penting yang memperkuat hubungan kedua negara
adalah besarnya komunitas Yahudi di Argentina. Negara Amerika Selatan tersebut
menjadi rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di Amerika Latin sekaligus
komunitas Yahudi berbahasa Spanyol terbesar di dunia. Diperkirakan terdapat
sekitar 180.000 hingga 300.000 warga Yahudi yang tinggal di Argentina. Sebagian
besar menetap di ibu kota Buenos Aires. Sekitar 85% dari populasi tersebut
berasal dari kelompok Ashkenazi atau keturunan Yahudi Eropa Timur dan Eropa
Tengah. Sementara itu, sekitar 15% lainnya merupakan kelompok Sephardim yang
berasal dari Balkan, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Meskipun pemerintah Argentina bersikap
sangat pro-Israel, kebijakan ini tidak sepenuhnya mewakili pandangan seluruh
rakyat Argentina. Di tengah narasi politik tersebut, banyak pendukung timnas
dan warga Argentina secara vokal menunjukkan solidaritas terhadap Palestina
melalui aksi demonstrasi di jalanan. Jadi membuat kesimpulan untuk membenci tim
Argentina karena pemerintahnya mendukung Israel bisa jadi sebuah kesimpulan
yang tidak tepat, karena ini sepakbola, siapapun boleh saja mendukung tim
sepakbola pilihannya bukan sebuah kejahatan tapi bisa jadi kegeraman masyarakat
luas muncul dikarenakan Timnas Argentina
didukung Netanyahu, maka ditarik sebuah kesimpulan begitu.
Negara Spanyol sendiri mendukung Palestina dikarenakan
komitmen bangsa ini terhadap hak asasi manusia, penegakan hukum internasional,
dan keyakinan bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya jalan menuju
perdamaian abadi di Timur Tengah. Spanyol
sendiri memiliki trauma masa lalu dikarenakan pernah berada di bawah
kediktatoran sehingga membuat mereka lebih bersimpati terhadap perjuangan Palestina.
Spanyol bersama Islandia, Irlandia, Malta, Luksemburg dan Norwegia adalah
Negara eropa yang mengakui secara resmi kemerdekaan negara Palestina. Dalam
even Piala Dunia ini para supporter dan pemain Spanyol terutama Lamine Yamal,
dibanyak partai pertandingan sebelumnya ketika menang, seringkali berlari lari
dengan mengibarkan bendera Palestina. Dikarenakan
hal itu warga Palestina terutama wilayah Gaza
secara masif mendukung Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026 sebagai bentuk
apresiasi atas dukungan politik dan kemanusiaan Spanyol yang konsisten terhadap
hak dan kemerdekaan rakyat Palestina, tentu ini jadi momen
mereka untuk menyuarakan genosida yang mereka alami dengan jumlah korban jiwa
warga Palestina di Jalur Gaza telah mencapai sedikitnya 73.200 orang sejak 7
Oktober 2023. Menurut otoritas kesehatan setempat dan laporan lembaga
internasional seperti PBB, angka tersebut juga mencakup lebih dari 21.000
anak-anak dan sekitar 170.000 hingga 172.000 orang lainnya mengalami luka-luka.
Sekali
lagi perlu ditegaskan bahwa mendukung Argentina tidak berarti mendukung
Zionisme, begitu juga Para Pendukung Spanyol, tidak serta merta mereka
mendukung Kemerdekaan Palestina tapi menangnya Spanyol sebagai Juara pada Piala
Dunia 2026, dengan skor 1 – 0 melawan Argentina pada final Subuh waktu
Indonesia tadi, tentunya membuat Netanyahu merasa seperti kena palu godam
setelah terang terangan pansos mendukung Argentina, entah bagaimana nasibnya
pada Pemilu Israel Oktober nanti? sedangkan Trump sendiri dengan tidak ada rasa
malunya memanfaatkan panggung piala dunia 2026 sebagai panggung politiknya,
tetapi panggung ini tidak sepenuhnya milik para politisi tapi menjadi milik
masyarakat dunia, masyarakat yang melawan kezaliman, masyarakat yang terus
menyuarakan keadilan, hal ini dapat dilihat dengan gencarnya dukungan kepada
Palestina melalui Piala Dunia 2026. Apakah menangnya Spanyol yang “direpresentasikan”
sebagai Pendukung Palestina sebagai pertanda zaman bahwa kemerdekaan Palestina
sudah dekat? Wallahuwa’lam bishawab.


0 Komentar