Oleh: Syifaul Hasanah (Peserta LATANSA PKS Kepri 2026)
"Belum merasa menikmati dakwah kalau belum ikut Kembara dan LATANSA."
Kalimat itu pernah kubaca beberapa waktu lalu.
Jujur saja, saat itu aku sempat meragukannya.
"Ah, masa sih? Memangnya seseru apa ikut LATANSA?" batinku.
Ketika kabar bahwa agenda ini akan dilaksanakan, rasanya seperti angin segar. Bagi seorang emak-emak yang setiap hari berkutat dengan cucian, dapur, dan berbagai urusan rumah tangga, dua hari berada di alam terbuka terdengar seperti hadiah me time yang menyenangkan.
"Healing tipis-tipis," ujarku dalam hati.Namun ternyata Allah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar healing.
Ada rindu yang diam-diam ingin ditunaikan. Rindu pada suasana yang dulu selalu meninggalkan jejak di hati. Rindu pada kebersamaan yang hari ini semakin sulit ditemukan.
Di zaman yang serba cepat, ketika pertemuan sering kali hanya terjadi seperlunya, ketika satu grup WhatsApp berisi puluhan nama yang bahkan belum pernah saling bertatap muka atau saling mengenal, LATANSA menghadirkan sesuatu yang mulai langka.
Kehangatan.
Atau, dalam bahasa yang lebih akrab bagi kami, ukhuwah.
Setelah hampir sepekan LATANSA berlalu, ternyata yang paling membekas bukanlah dinginnya malam di tepi pantai atau lelahnya mengikuti setiap rangkaian kegiatan.
Yang tertinggal justru momen-momen sederhana.
Ternyata nikmat, ya...
Duduk berhimpitan dalam satu ruangan, melantunkan Al-Ma'tsurat Kubra bersama. Lalu diam-diam memandangi wajah-wajah penuh ketulusan sambil menyelipkan doa-doa terbaik untuk mereka.
Ternyata nikmat, ya...
Makan bersama dalam satu nampan, saling bercanda, saling mendahulukan, tanpa memandang siapa anggota dewan, siapa dokter, siapa ibu rumah tangga, siapa yang lebih senior, atau siapa yang baru bergabung.
Tak ada sekat jabatan.
Tak ada pembeda status.
Semua duduk di atas hamparan pasir yang sama.
Semua menikmati lauk yang sama.
Walaupun, untuk urusan antre kamar mandi, tetap tidak ada cerita saling mendahulukan.
Semua tetap adil sesuai nomor antrean, ya Bu-Ibu.
Hehe...
Ternyata nikmat, ya...
Tidur berhimpitan di dalam satu tenda.
Saling mengingatkan untuk beristirahat.
Saling membangunkan untuk tahajud.
Berbagi alas tidur seadanya.
Berbagi bekal yang dibawa dari rumah.
Bergantian membantu teman yang sedang tidak baik-baik saja.
Barulah kusadari, ada beberapa hal yang tidak cukup dipahami lewat teori.
Ia harus dialami.
Harus dirasakan.
Justru dari hal-hal kecil yang tampak biasa itulah makna ukhuwah tumbuh perlahan.
Puncak harunya adalah ketika kami saling bersalaman di penghujung acara.
Entah mengapa, rasa haru itu begitu dalam.
Padahal kami baru dua hari bersama. Bahkan hingga agenda selesai, masih banyak di antara kami yang belum saling mengetahui nama.
Namun rasanya seperti akan berpisah dengan keluarga yang telah lama hidup bersama.
Saat itulah aku teringat pada sebuah nasihat guruku.
"Kita ini seperti berada dalam satu rumah besar."
Kalimat itu baru benar-benar kutemukan maknanya di penghujung LATANSA.
Ketika menatap dan memeluk satu per satu wajah-wajah teduh penuh keikhlasan, aku membayangkan betapa besar pengorbanan dan perjuangan yang telah mereka lalui demi menjaga rumah besar ini.
Mereka pun memiliki ujian hidup masing-masing.
Ada lelah yang tidak pernah diceritakan.
Ada air mata yang mungkin hanya Allah yang menyaksikan.
Belum lagi dinamika dalam perjalanan dakwah itu sendiri.
Ujian dari luar.
Ujian dari dalam.
Perbedaan cara pandang.
Beratnya menjaga ukhuwah.
Dan berbagai perjuangan yang dijalani dalam diam, disimpan rapat agar hanya Allah yang mengetahuinya.
Yang membuatku semakin kagum, di balik semua ujian itu mereka memilih tetap tinggal.
Tetap menjaga rumah ini.
Tetap merawatnya.
Mungkin inilah yang dahulu dimaksud Umi dan Abi sebagai warisan paling mahal.
Bukan harta.
Bukan pula benda.
Melainkan nikmatnya memiliki begitu banyak saudara dalam satu rumah besar.
Seolah-olah kita memiliki banyak orang tua yang tidak melahirkan kita.
Memiliki banyak kakak dan adik yang tidak berasal dari rahim yang sama.
Di situlah aku mulai memahami makna baiti jannati.
Rumahku adalah surgaku.
Bukan berarti rumah yang sempurna tanpa kekurangan.
Melainkan rumah yang terus diperjuangkan agar tetap layak menjadi tempat pulang.
Begitu pula rumah dalam perjalanan dakwah ini.
Ia tidak selalu mudah.
Tidak selalu tanpa luka.
Namun selalu layak diperjuangkan.
Sungguh, aku sangat bersyukur.
Allah masih mengizinkanku berada di rumah ini.
Melihat perjuangan orang-orang yang menjaganya.
Dan semoga Allah juga mengizinkanku mengambil bagian, sekecil apa pun, untuk ikut merawatnya.
Mari kita usahakan rumah ini menjadi baiti jannati.
Sebab rumah tidak akan terasa hangat hanya karena ditinggali.
Rumah menjadi hangat karena ada orang-orang yang bersedia merawatnya, menjaganya, dan membuatnya selalu nyaman untuk kembali.
Semoga hingga saatnya tiba, kita pun mampu mewariskan rumah dakwah yang penuh cinta ini kepada anak-anak dan cucu-cucu kita kelak.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
"Istiqamah, ya..."
Pesan singkat yang dibisikkan dalam pelukan hangat hari itu masih terngiang hingga sekarang.
Ya Allah...
Kuatkanlah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Dan izinkan kami tetap menjadi bagian dari rumah besar ini, hingga kelak Engkau mengumpulkan kami kembali di rumah yang sesungguhnya, yaitu surga-Mu.
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan karya Syifaul Hasanah sebagai peserta Pemenang Juara 1 Lomba Penulisan BLOG LATANSA PKS Kepri 2026. Demi meningkatkan keterbacaan, ketepatan bahasa, serta kualitas penyajian, naskah ini telah melalui proses penyuntingan oleh Tim Relawan Literasi (ReLi) DPW PKS Kepulauan Riau. Seluruh substansi, gagasan, pengalaman, dan sudut pandang yang disampaikan tetap merupakan pemikiran asli penulis.


0 Komentar