Beddu, Baco, dan La Pagala janjian mau jalan sore-sore. Mereka setuju ngabuburit. Habis ashar ketiganya bertolak. Tujuannya ke hutan, terus ke gua.
Ketiganya masuk. Agak jauh. Tampak kelelawar bergelantungan. Juga stalaktit yang menghias plafon gua. Jalan tempat kaki-kaki mereka menapak terasa sesekali licin.
"Dinikmati saja," saran Baco ke kedua rekannya.
Makin jauh masuk, lama-lama dapat lokasi yang lumayan terang. Mereka tengadah. Ada rongga besar. Sebab itu ada cahaya yang turun ke bawah. Area gua di sini juga lebih lembab dibanding yang mereka lewati dari tadi. Bernafas pun lebih enteng. Dan ini yang buat Beddu penasaran, banyak pohon yang tumbuh. Buahnya hitam pekat. Sekilas mirip anggur. Rasanya di pasar pun tak pernah ada yang menjual buah itu.
"Buah apa ini?" La Pagala mau tahu.
Tak ada yang menjawab. Dan lama mata mereka menikmati pemandangan di hadapan. Jejer pohon yang dirimbuni buah bulat-bulat mini hitam pekat. Tak mungkin mereka cicipi karena sedang puasa.
Tapi nama buah itu tidak begitu penting. Apapun namanya, buah ini akan mereka bawa ke desa. Nanti coba ditanyakan ke guru biologi di Madrasah Tsanawiyah. Atau ke penyuluh pertanian yang biasa mangkal di kantor desa.
Sekarang yang penting diambil dulu. Bawa keluar. Mereka bertiga kompak dengan ide itu. Cuma masalahnya mau pakai wadah apa. La Pagala rupanya punya kantong celana banyak. Dihitung olehnya ada enam. Baco cuma punya dua kantong celana, satu kiri, satu kanan. Beddu sore itu pakai celana tanpa kantong. Untung bajunya berkantong satu. Maka, masing-masing petik sesuai kapasitas muatan kantong. Lalu pulang.
"Ini buah Elderbelly. Buah ini punya banyak khasiat. Bisa untuk mengobati flu dan batuk, mengurangi peradangan, bahkan bisa membantu penderita diabetes."
Tiga sekawan manggut-manggut. Mereka intinya paham buah itu bagus. Yang paling riang tentu La Pagala, si pemilik celana berkantong enam. Disusul Baco, lalu terakhir Beddu. Diam-diam mereka kompak merencanakan ke gua lagi besok. Tapi bawa karung banyak-banyak.
Di atas cuma fiksi. Sejenak, mari muhasabah. Pentingnya mengumpulkan sebanyak mungkin bekal sebelum pulang. Dalam ragam wadah amal.
“Berbekalah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Kampung kita yang asli di akhirat nanti. Di dunia cuma mampir. Tapi meski "cuma mampir" momen satu-satunya buat kumpul bekal hidup di akhirat adanya di sini; di dunia.
~
Azwar Tahir
Relawan Literasi PKS Sulsel
0 Komentar