Oleh: H.Hadi Santoso, M.Si., Ketua Umum DPW PKS Jateng 


Di era digital yang serba cepat ini, fenomena hustle culture sering memicu kecemasan. Kita dituntut untuk selalu berlari dan mengukur kesuksesan semata dari pencapaian materi. Saat target karir meleset atau agenda dakwah membentur tembok tebal, banyak yang merasa putus asa. Padahal, dalam pemahaman Islam yang syumul (menyeluruh), kaidahnya amat membebaskan: manusia hanya diwajibkan taat dan berusaha, sementara hasil urusan Allah. 


Bagaimana wujud nyata dari konsep ikhtiar dan tawakkal ini? Mari kita sejernihkan hati, menengok lembaran sejarah.


Atmosfer Ketaatan dalam Tafsir Surat Al Anfal

Jika kita membedah tafsir Surat Al Anfal ayat 5 sampai 19, kita akan menemukan sebuah potret epik tentang intervensi langit. Peristiwa Perang Badar adalah anomali dari segala hukum probabilitas manusia. 


Bayangkan, 313 Muslimin berbekal pedang tumpul, harus berhadapan dengan 1.000 pasukan elite Quraisy bersenjata lengkap. Di tengah dinginnya pasir gurun, bayang-bayang kematian terasa begitu dekat. Wajar jika di awal peperangan, sebagian sahabat merasa ragu dan seolah digiring menuju kebinasaan (QS. Al-Anfal: 5-6).


Namun, dari rahim ketakutan itulah lahir ketaatan mutlak. Di tengah *syura* yang mencekam, Al-Miqdad bin 'Amr dan Sa'd bin Mu'adz berseru membelah keheningan, "Wahai Rasulullah, melangkahlah! Demi Allah, seandainya engkau membentangkan lautan di hadapan kami dan engkau terjun ke dalamnya, niscaya tak satu pun dari kami akan tertinggal!" Ini adalah puncak ketaatan tanpa syarat.


Hebatnya, ketaatan heroik itu bersanding dengan ikhtiar dan tawakkal yang rasional. Hubab bin Al-Mundhir, sang ahli strategi, tidak lantas pasrah buta. Ia menggunakan akalnya untuk mengusulkan taktik memindahkan pasukan ke titik sumber air guna memutus dahaga dan mencekik suplai musuh. 


Lalu, ada kepasrahan total Umair bin Al-Humam. Saat mendengar seruan surga dari lisan Nabi, ia tanpa ragu membuang kurma pengganjal perutnya dan menerjang lautan musuh. Baginya, berjuang adalah kewajiban, syahid adalah tujuan. 


Ketika ikhtiar optimal bersatu dengan ketaatan paripurna, pertolongan Allah datang menyapa. Malaikat diutus, hujan penenang diturunkan. Allah menggarisbawahi hakikat hasil urusan Allah dalam ayat ke-17: "Bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar."


Meneladani Kepahlawanan Bangsa di Tengah Tantangan Modern

Sikap pasrah dan taat tanpa berhitung hasil ini juga menjadi urat nadi dalam kisah kepahlawanan bangsa Indonesia. Pada peristiwa 10 November 1945, rasio logika mengatakan bambu runcing takkan mampu merobek baja tank Sekutu. Namun, pekik takbir para santri dan ulama yang dijiwai Resolusi Jihad membakar nyali. Mereka turun gelanggang murni karena taat pada seruan membela agama dan negara. Kepasrahan itu membuahkan kemerdekaan yang kita hirup hari ini.


Lantas, bagaimana hal ini menjawab tantangan modern? 


Hari ini, musuh kita bukan lagi pasukan Quraisy atau tentara Sekutu. Kita berhadapan dengan disrupsi teknologi digital, ketimpangan ekonomi, dan oligarki. Seringkali kita merasa bagai "Daud" yang tak berdaya melawan "Goliath" sistemik.


Sebagai Muslim berkemajuan yang ter-tarbiyah, kita harus meneladani keberanian Al-Miqdad dan rasionalitas Hubab. Hadapi tantangan modern ini dengan Grand Design, literasi cerdas, manajemen risiko, dan kerja amal jama'i yang profesional. Susun rencana terhebat, kerjakan dengan cucuran keringat terbaik, lalu serahkan sisanya kepada Sang Pencipta.


Saudaraku di Jawa Tengah dan di manapun berada, apa pun profesi Anda hari ini—pengusaha, birokrat, politisi, atau pendidik—jadikanlah kerja dan dakwah Anda sebagai arena pembuktian iman. Teruslah berbuat baik tanpa pesimis. Yakinlah, ketika kita menunaikan kewajiban kita, kemenangan yang mustahil sekalipun akan turun menyapa. Allahu Akbar!