Di hari Sabtu pagi yang sunyi, 18 April 2026, langit seakan ikut berduka. Bukan hanya karena seorang manusia telah kembali kepada Rabb-nya, tetapi karena kita kehilangan sosok yang selama ini menjadi penunjuk arah seorang murobbi, naqib, sekaligus orang tua dalam perjalanan tarbiyah kita. H. Dede Herli, nama yang tidak sekadar dikenal oleh kader PKS Ciamis, tetapi dirasakan kehadirannya dalam setiap langkah dakwah yang pernah kita tapaki bersama.
Sehari sebelumnya, Jumat sore itu terasa begitu biasa atau mungkin kita yang tidak pernah menyangka bahwa itu adalah pertemuan terakhir dalam suasana penuh nasihat. Kami bertiga; saya, Haji Oman, dan Haji Ibnu berkumpul dalam agenda liqo pekanan (Pak Kuwu Rukman izin sakit di RS, Akh Hikayat sakit persiapan operasi). Seperti biasa, beliau hadir bukan sekadar sebagai pembina UPA, tetapi sebagai ayah yang mengayomi, mendengar, dan menuntun dengan kelembutan yang tegas.
Di tengah perbincangan, beliau menitipkan satu pesan yang kini terasa begitu dalam maknanya: Isti’ab .
Sebuah kata yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sarat makna perjuangan. Bahwa dakwah ini bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi tentang menampung. Menampung manusia dengan segala latar belakangnya, menampung luka-lukanya, potensinya, bahkan kelemahannya.
Beliau menjelaskan dengan penuh ketenangan bahwa gerakan ini harus punya daya tampung. Harus mampu menerima berbagai karakter, bukan memilih yang mudah saja. Harus ada proses tarbiyah yang matang, bukan sekadar ramai di awal lalu hilang arah. Dan harus ada manajemen yang rapi, karena dakwah bukan hanya soal hati, tetapi juga soal pengelolaan amanah.
Hari itu, kita mendengar. Mungkin mencatat. Mungkin mengangguk. Tapi tidak ada yang benar-benar menyadari… bahwa itu adalah pesan terakhir.
Kini, ketika beliau telah tiada, kata Isti’ab itu berubah menjadi amanah yang terasa lebih berat. Seakan beliau sedang berkata tanpa suara: “Lanjutkan… jangan biarkan dakwah ini kehilangan ruhnya.”
Kehilangan ini bukan hanya kehilangan sosok, tetapi kehilangan tempat bertanya, tempat pulang ketika lelah, dan tempat meneguhkan langkah ketika goyah. Namun, di balik duka yang dalam, ada warisan yang tidak akan pernah hilang nilai, prinsip, dan jejak tarbiyah yang telah beliau tanamkan.
Dan mungkin, inilah hakikat tarbiyah itu sendiri. Bahwa seorang murabbi tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam amal murid-muridnya. Ia hadir dalam setiap langkah dakwah yang tetap berjalan. Ia abadi dalam nilai yang terus diperjuangkan.
Selamat jalan, guru kami.
Engkau telah menunaikan tugasmu dengan sempurna.
Kini, izinkan kami melanjutkan… meski dengan langkah yang tertatih, namun dengan tekad yang kau wariskan.
Akhukum fillah,
Uus Rusdiana



0 Komentar