Menyambut Ramadhan Penuh Suka Cita Seperti Saat Kanak-kanak

PKSFoto/Akiawan


Dulu saat kita kanak-kanak, ada perasaan senang yang melekat kuat saat Ramadhan tiba. Bulan yang penuh berkah itu datang. Sejak suasana bangun sahur, lalu makan sahur dengan keluarga, mendengar azan Subuh dan pergi bersama-sama ke mushola. Setelah itu, kita terbiasa lebih senang jalan-jalan bersenda gurau hingga matahari terbit. Baru kita pulang kerumah.


Indahnya, sulit digambarkan. Apalagi suasana ceria menunggu beduk maghrib. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang hatinya senang menyambut kedatangan bulan Ramadhan, maka  akan di bangun satu rumah baginya di Surga".


Kini, seiring dengan beranjaknya waktu dan usia. Tanpa sadar rasa senang mungkin masih sulit dirasakan. Kita sibuk dan disibukan dengan banyak urusan. Sibuk mengurus pekerjaan, keluarga, anak, istri, sekolah, dan lainnya. Jika ingin jujur, ada diantara kita yang memasuki bulan suci ini dengan perasaan jengah, bahkan mungkin sedih lantaran waktu istirahat berkurang atau terganggu, atau fisik kita lemah di siang hari. Innalillahi. Semoga  Allah menjauhkan perasaan itu. Sebab, itu adalah bagian dari bencana.


Lalu, bagaimana kita menumbuhkan lagi perasaan senang dan suka cita memasuki Ramadhan?. Jawabannya adalah tergantung seberapa  dekat kita dengan Allah SWT. Artinya perasaan senang itu bisa jadi ukuran, sedekat apa kita dengan Allah Swt. Jika kita dekat dengan Allah, maka Allah SWT pun dekat pada kita. Sebaliknya, bila ketika kita jauh dari Allah, memberi jarak pada Allah SWT, maka Allah SWT pun menarik jarak. Ketika itu pula,mungkin Allah Swt tak hendak memberi perasaan senang dalam hati kita.


Itulah di antara janji-Nya. "Jika kau datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka aku akan mendatangimu dengan berlari. Jika kau mendekati-Ku sedepa, maka aku mendektimu sehasta".


Ada sebuah jaminan yang diberikan Allah SWT pada bulan suci Ramadhan. Khusus manusia, bagi orang-orang yang berpuasa dalam sebuah hadits disebutkan nabi telah bersabda,  "Allah berfirman, setiap kebaikan itu dibalas sepuluh kali libat dan bisa sampai 700 kali. Kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku maka Akulah  yang akan membalasnya".


Sungguh, sebuah penghormatan luar biasa bagi manusia, yaitu balasan pahala yang akan disampaikan oleh Sang Kholiq. Meski begitu, tak mudah mendapat balasan yang luar biasa itu. Ada banyak duri yang selalu menanti di setiap jalan yang akan kita lalui. Ada kabut tebal yang senantiasa membayangi dan mengelabui. 


Renungilah pesan Rasulullah SAW berikut ini, "Adakalannya seseorang tidak mendapat apapun dari puasanya tetapi hanya mendapat lapar dan kepayahan saja". Boleh jadi kita sadar bahwa puasa yang kita lakukan hanya mendapati lapar dan kepayahan. Tetapi sering pula kita menggulangi hal serupa, tidak satu, dua, tiga tapi berkali-kali tanpa kita mampu mengubah dan melepaskan diri dari belenggu syaitan.


Mari kita gunakan waktu yang mulia ini dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas seluruh amal ibadah dan amal shalih kita semua.Wallahu A'lam


Panut Haryadi 

Relawan Literasi Kota Tangerang

Posting Komentar

0 Komentar