Setelah Covid-19 Ulang Tahun



"Bi. Bulan Desember kan Corona ulang tahun!" kata anak saya beberapa bulan lalu. 


"Mungkin namanya perlu diganti bi. Siapa tahu berakhir. Misalnya ganti jadi Virus Covid-91," kata dia lagi. 


Ini sudah Januari 2020 dan Pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Jumlah kasus positif di Indonesia sudah jauh melampaui negara asal virus.


Bulan Januari 2020 lalu, saya mengikuti perkembangan Virus Corona. Hampir setiap pagi memperhatikan peta penyebaran virus di situs gisandata. 


Bulatan merah di Wuhan terus membesar yang diikuti kota-kota sekitarnya. Lalu loncat ke Thailand, Amerika Serikat, Prancis, Italia dan lain-lain.


Ketika kasus muncul di Malaysia dan Singapura, otoritas kita masih adem ayem. Corona gak bisa masuk negeri ini dan beragam komentar kurang intelek muncul dari orang-orang yang seharusnya intelek. 


Fear Mongering ala China 


Ketika akhirnya Virus Corona masuk, banyak masyarakat yang kurang percaya. Bahkan gak yakin apakah ini benar-benar ada. 


"Kok gak kayak di China, disana orang-orang banyak yang mati di jalan-jalan?" komentar seperti ini pernah saya dapatkan di medsos. 


Terkait hal ini, belakangan saya jadi mikir. Keren juga cara China meyakinkan rakyatnya. 


Mereka itu kan negara yang sangat ketat. Internet betul-betul diawasi dan dibatasi, tapi kenapa ketika Virus Corona muncul, itu video-video orang pingsan atau mati di jalanan sangat mudah tersebar luas? 


Aha! Jangan-jangan video itu sengaja memang dibebaskan tersebar luas, agar masyarakatnya yakin bahwa virus itu benar-benar ada. Jadi ketika dilakukan lock down mereka sudah ikhlas dan percaya.  


Mereka memang benar-benar melakukan itu. Wuhan lock down beneran. Transportasi publik stop total. Rakyat tidak boleh keluar rumah. 


Meski hubungan Indonesia-China sangat erat beberapa tahun terakhir ini, tetapi cara-cara yang dilakukan China menghadapi Virus Corona ternyata tak diduplikasi pemerintah kita ya? 


Hanya PSBB dan pintu masuk dari luar negeri masih terbuka di banyak titik. Akhirnya virus tersebar di seluruh provinsi. 


Dulu butuh waktu 115 hari untuk penambahan 50.000 kasus. Tiga pekan terakhir konsisten. Cukup 7 hari untuk 50.000 kasus. 


Terus ditengah-tengah situasi krisis kesehatan seperti ini masih ada krisis akhlak dan moral. Kok bisa-bisanya korupsi bansos dan korupsi ekspor benih lobster? 


Sementara itu, hampir setiap hari pula saya mendengar kabar duka. Meninggalnya orang-orang baik. Dari dokter, perawat hingga ulama karena virus ini. 


Ujian Panjang Kesabaran 


Saat ini dan hari-hari esok, kesabaran kita makin diuji. Ditengah-tengah penambahan kasus yang makin dahsyat, seberapa lama kita bisa bertahan dan Istiqomah dengan tetap memakai masker, tetap mencuci tangan, tetap jaga jarak, tetap mengurangi bepergian, kondangan, reunian, selingkuhan dan aktivitas kumpul-kumpul lainnya. Kesabaran juga harus dilipatgandakan karena ketika Pandemi Covid-19 ini tak juga berakhir, maka kondisi ekonomi juga jalan di tempat, bahkan mundur.


Sisi lain, ketika seharusnya sibuk dan serius dengan musuh bersama bernama Virus Corona ini, ternyata Omnibus Law Ciptaker yang merugikan buruh lebih dikebut. Terus dilanjutkan dengan narasi radikalisme yang terus digaungkan. Rakyat berbaju putih itu dianggap lebih berbahaya dari Virus Corona.



Enjang Anwar Sanusi 



Posting Komentar

0 Komentar