Top Ad unit 728 × 90

Rumah Cinta Hasan Al-Banna, Sebuah Resensi




Oleh Permesti Al Ghazi

Judul: Rumah Cinta Hasan Al Banna


Penulis: Muhammad Lili Nur Aulia

Penerbit: Al Qalam

Halaman: 194 hlm

Ukuran Buku: A6

Buku ini sebenarnya adalah revisi dan kompilasi dari dua buku yakni Cinta di Rumah Hasan Al Banna dan Persembahan Cinta Hasan Al Banna.

Buku ini berisikan kisah bagaimana seorang Hasan Al Banna dan istrinya membangun rumah cinta uuntuk anak-anak mereka dan bagaimana pandangan anak-anak mereka terhadap ibu dan ayah mereka.

Sosok Hasan Al Banna pasti sudah banyak dikenal kalangan tarbiyah. Sosok pendiri gerakan Islam terbesar Ikhwanul Muslimin (1928) ini banyak diulas di media, buku, pemikiran hingga biografinya. Seruan kembali kepada Islam serta mengajak penerapan syariat Islam pada kehidupan nyata mampu membendung paham sekuler di negara-negara Islam.

Namun begitu, belum banyak buku yang mengulas bagaimana Hasan Al Banna berinteraksi dengan keluarga. Bagaimana di antara agenda dakwahnya yang padat, Hasan Al Banna memposisikan dirinya sebagai suami sekaligus ayah.

Di bagian pertama buku, dijelaskan mengenai keluarga Hasan Al Banna.  Hasan Al Banna dibesarkan di sebuah keluarga sederhana yang islami.

Ayahnya –yang alumni Al Azhar- sering mengikutsertakan Al Banna dan adiknya di majelis-majelis diskusi ilmiah yang diadakannya. Ayahnya adalah seorang ahli hadis dan juga tokoh masyarakat. Sementara ibunya, Ummu Sa'ad, meski tak sekolah tinggi namun cerdas dan mampu mengelola banyak hal. Ummu Sa'ad punya pribadi yang kuat dan tegas.

Di usia 9 tahun, Al Banna sudah menghafal 2/3 Al Qur’an. Menurut sang adik, ia tak pernah melihat orang yang begitu banyak puasa dan shalat seperti kakaknya.  Kemudian ketika Al Banna beranjak dewasa, sang ibunda pun memilihkan jodoh yang terbaik dengan mengunjungi rumah para ulama Ismailiyah dan merasa simpatik pada seorang putri dari keluarga sederhana yang pandai melantunkan Al Qur’an bernama Lathifa.

Di bagian kedua, mengulas tentang kebersamaan Hasan Al Banna dengan buah hati. Rumah tangga Hasan Al Banna dikaruniai enam anak, yakni Wafa, Saiful Islam, Tsana, Roja’, Halah,dan Isytishad. Hanya ketiga anak terbesar yang merasakan didikan sang ayah cukup lama, sedangkan yang lainnya masih terlalu kecil ketika Al Banna meninggal bahkan si bungsu masih dalam kandungan yang paling besar berusia 17 tahun. 

Walau sesibuk apapun, Hasan Al Banna selalu menyempatkan makan pagi bersama anak-anaknya. Beliau juga tak segan membawakan bekal Tsana yang tertinggal ke sekolah. Terhadap sang istri, Hasan Al Banna berusaha meringankan bebannya dengan membantu membeli kebutuhan rumah. Beliau juga tidak pernah membangunkan istrinya saat pulang larut malam dan menyiapkan sendiri makanan kecil untuk tamu-tamu yang datang ketika larut.

 Dalam menasehati anak-anaknya, beliau tidak menasehati secara langsung, melainkan dengan contoh. Misalnya ketika Saif sedang hobi membaca komik, Hasan Al Banna tak serta merta melarangnya tetapi memberikan buku-buku lain yang lebih bermanfaat sambil menceritakan isi buku tersebut yang tak kalah menariknya.

Saat membiasakan Wafa dan Tsana mencintai Al Qur’an, beliaulah yang pertama membaca Al Qur’an dan mengajak mereka untuk menyimaknya. Ketika menghukum anak yang melalaikan aturan rumah, Hasan Al Banna memukulnya tapi sama sekali tidak keras, hanya untuk mengingatkan bahwa si anak telah melakukan kesalahan. Ketika Tsana tak mau sekolah karena malu gara-gara tinggal kelas, beliau juga tak langsung memaksanya. Alih-alih beliau mengatakan bahwa Tsana sangat bagus dalam memasak, mungkin sebaiknya memang Tsana tinggal di rumah saja, membantu ibunya. Mendengar hal itu, Tsana langsung mau masuk sekolah.

Hasan Al Banna juga menyimpan secara rapi riwayat masing-masing anak dalam map tersendiri. Mulai riwayat kelahiran, penyakit, obat-obat apa yang pernah dikonsumsi, sampai pelajaran yang kurang dikuasai tiap anaknya dicatat dengan rapi. Beliau bahkan menyempatkan untuk berkomunikasi dengan guru anaknya untuk menambah latihan tertentu guna memperkuat bidang ilmu yang dirasa kurang dikuasai sang anak. Terkadang Hasan Al Banna meminta bantuan para ikhwan untuk memantau anak-anaknya dan memberikan les tambahan.

Di bagian ketiga buku, dijelaskan mengenai ujian keteguhan dan kesetiaan istri Hasan Al Banna setelah ditinggal suami. Bagaimana Lathifa harus melahirkan sehari setelah Hasan Al Banna tewas ditembak. Buku ini juga menceritakan bagaimana Lathifah tampil melanjutkan perjuangan suami saat gerakan IM yang didirikan oleh Hasan Al Banna dianggap teroris. Bagaimana Lathifa menghadapi penangkapan anaknya oleh pemimpin Mesir saat itu, Jamal Abdul Naser.

Buku ini menjadi bahan renungan untuk kembali menerapkan tauladan terbaik untuk anak-anak. Zaman sekarang di mana ayah sibuk bekerja dan pulang malam, seolah menjadi alasan legal jatuhnya tanggung jawab mendidik anak ke pundak sang ibu. Hasan Al Banna yang sangat sibuk setiap hari masih bisa meluangkan waktu untuk mendidik langsung anak-anaknya meski dengan kesibukannya beliau hanya tidur 4 jam sehari.

Ibarat bangunan, ayahlah yang merancang dan membangun, ibu yang mengisi bagian dalamnya. Ayah yang men-setting, ibu yang melaksanakan. Bahkan ibu pun hasil didikan sang ayah. Dengan membaca buku ini, para ayah diharapkan terdorong untuk lebih aktif dalam tarbiyatul aulad (mendidik anak), tidak hanya aktif di dakwah masyarakat saja. 

Keduanya harus seimbang, sebagaimana yang dilakukan Hasan Al Banna. Dengan membaca buku ini, ibu sebagai madrasah keluarga lebih dapat sabar dan memberikan cinta. Diharapkan juga terjalinnya sikap at-tajaazub an-nafsi, yakni suasana saling menentramkan antara suami dan istri.

Rumah Cinta Hasan Al-Banna, Sebuah Resensi Reviewed by Penduduk Desa on 5:13 AM Rating: 5

No comments:

Copyright © 2018. Blog PKS. All Rights Reserved
Blog ini dikelola oleh Relawan Literasi - Humas PKS

.

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.