Header Ads

Dewan PKS Ora Pawaan Dewan



Oleh: Arief Eka Arka Atmaja

Suatu hari di sebuah resto, dia bersama istri dan anaknya hendak makan siang. Anaknya meminta salah satu menu yang bisa di bilang cukup mahal. Namanya juga keinginan anak bagaimana lagi.  "Mbak, pesan ini" katanya kepada pelayan. "Maaf habis" jawab pramusaji itu. Akhirnya Ia pun membujuk anaknya agar memesan menu yang lain walaupun tetap saja bujuk rayunya tak cukup mampu menahan tangis anaknya.

Namun tak beberapa lama, mengherankan, menu yang katanya habis ini hilir mudik di pesan oleh pelanggan lain. "Loh mas katanya habis" teriaknya. Rupanya pelayan mengira, si pemesan ini tidak akan mampu membayar menu yang ia pesan.  Penampilannya dinilai cukup "katrok" dan kurang layak untuk memesan menu mahal. 

Beliau adalah Anggota DPRD Prov Jateng dari PKS Hadi Santoso. Panggil saja Mas Hadi, karena memang masih muda. Saya menilai memang dia bukan "pawaan" pejabat. "Pawaan" adalah istilah Bahasa Jawa yang jika dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan penampilan. Walau sebenarnya kurang tepat juga. Lebih dari sekedar penampilan. Mungkin lebih tepat pembawaan diri.

Saya bahkan hafal beberapa baju andalannya yang hanya itu itu saja. Sweater kumal yang sudah agak molor itu sepertinya masih jadi andalan. Saya saja agak bosen melihat Mas Hadi pakai sweter itu,  tapi dia sendiri nggak bosan. Entah dia menyadarinya atau tidak kalau orang lain yang melihatnya mulai bosan. Baru akhir-akhir ini, saya lihat Mas Hadi sudah berusaha memperbaiki penampilan dengan memiliki baju necis, tapi itupun hanya satu dua potong baju andalan. Di acara resmi kedewanan, kayaknya baju necis yang hanya beberapa itu saja yang sering dia pakai. Kelihatan dari koleksi fotonya yang ia pajang di facebooknya yang jarang ada variasi baju.

Badan kurus, jari bersih dari akik, jam tangan jarang saya lihat dia pakai, perut tak buncit, potongan rambut biasa. Wajar jika saat kunjungan, ia sering di kira asisten dewan, padahal dialah anggota dewannya.

Tapi saya kira itu hanya selera hidup. Bukan dia tak mau tampil mewah. Atau keinginan hidup zuhud, dia cukup cerdas dan faham apa itu zuhud. Zuhud bukanlah sekedar penampilan. Tapi menurut saya seleranya saja yang lumayan payah. Seperti kurang referensi. Untuk anak muda seusianya sepertinya ia kurang bergaul dengan anak-anak metropolis. Masa mudanya terlalu serius.

Sudah cukup kita bully anggota dewan muda ini soal penampilan. Soal kerja ia layak dipuji. Energic dalam bekerja, cerdas dalam pemikiran, cerdik dalam membuat setrategi politik. Khas mantan aktifis jalanan. 

Selama menjadi dewan,  ia tak pernah melupakan wilayah dapilnya. Sragen, Karangannyar,  Wonogiri. Saya berani memastikan, Mas Hadi merupakan anggota dewan yang paling sering pergi ke dapil. Rumah saya ada di kecamatan Sukodono, itu kecamatan paling utara sragen. Pelosok,  terpencil, jalan tidak karuan, jauh..., keluarga mertua saya pernah mengeluh saat pertama datang ke rumah waktu proses sebelum akad,  beruntung tidak balik kanan. Sejauh itupun, mas Hadi pernah mengambahnya. Jadi tak heran, saya baca berita akhir-akhir ini ia berkeliling ke daerah dapilnya yang kekeringan dengan membawa truk tangki air. Ia menyemprotkan air ke ember-ember penduduk memberikan bantuan air. Saya masih ingat, 5 tahunan yang lalu ia mengatakan, "5 tahun waktu yang sempit untuk kembali ke semua wilayah dapil, dan menyapa masyarakat" pikirku dalam hati, "kok ngoyo men", karena saya tahu dewan lain tak sampai seperti itu. 

Kerjanyata selalu di balas oleh masyarakat dengan suara, itulah hukum penting dalam demokrasi.  Dan cara paling mudah menilai kontribusi nyata seorang dewan adalah dari hasil pemilu. Hadi Santoso adalah Caleg DPRD Provinsi dengan suara paling banyak jika di banding dengan caleg PKS lainnya dari semua dapil di Jateng. 

Mas Hadi saya kenal sangat energic,  mungkin mendapatkan perhatian khusus dari istrinya,  karena istrinya seorang dokter. Selalu all out menjalankan tugas, selalu fit untuk terus bergerak. Susah janjian dengan ini orang, karena sibuk dengan tugas. 

PKS Jateng saya kira beruntung memiliki kader seperti Mas Hadi dengan melihat kinerjannya.  Saat menjadi Ketua Pemenangan Pemilu saya bilang ia sukses.  PKS jateng berhasil menempatkan kadernya di semua dapil di Jateng disaat PKS di terpa badai.  Berhasil mendapatkan 3 kursi wakil Walikota dan Bupati. Walikota Salatiga,  dan 2 lainnya ada di dapilnya,  Wakil Bupati Sragen dan Karanganyar.  Memang bukan hanya kerja seorang Hadi,  tapi perannya sebagai Ketua Pemenangan Pemilu layak di banggakan.

Saya kira Mas Hadi adalah dewan yang layak di contoh bagi dewan yang lain.  Ia mengatakan,  "Filosofinya DPRD (Anggota Dewan)  adalah babu,  kongkonan, genter, jangan malu menyuruhnya dan memintanya". Prinsip yang ia benar-benar laksanakan. Tentu sungguh prihatin jika ada dewan aktifis dakwah,  yang hanya berorientasi kuasa saja,  tak peduli medan dakwahnya.

Semoga istiqomah Mas Hadi dan selalu dimudahkan dalam segala urusan. Amin

No comments:

Powered by Blogger.