Header Ads

Negeri Berduri



Oleh: Bang Joy

Nyalang setiap pasang mata yang hadir. Geram,  marah!!!
Menuntut keadilan dinegeri berduri.

Kedutaan kecil Myanmar.
Sengaja tak kusebut kau sebagai Kedutaan Besar. Karena nyalimu memang kecil. Hanya berani terhadap anak-anak kecil. Perempuan-perempuan tak berdaya. Pria perempuan berusia senja.

Berjarak seratus meter dari panggung utama. Kawat berduri memisahkan sesama anak negeri. Langkah kami dibatasi dinegeri sendiri, mengapaaa? Argggggggggghhhh!!!

Jalan H.  Agus Salim, Jakarta Pusat. Menjadi saksi dinegeri yang berduri. Kawat berduri rupanya tak cukup. Water canon siap melumat dibalik jeruji kawat berduri. Negeri berduri sakitnya membuat luka dijiwa. Rasa keadilan terusik.

Panas yang menyengat. Tak membuat kami cepat beranjak. Orasi demi orasi. Doa demi doa. Semua sudah tumpah  diatas panggung membanjiri jiwa-jiwa yang penuh harap. Ribuan mulut berteriak bersama. Ribuan pasang mata menangis bersama. Mengetuk pintu langit diterik bolong langit Jakarta. Masih adakah keadilan dinegeri berduri?

Kita harus cabut duri-duri yang menancap ditubuh pertiwi. Duri-duri yang melemahkan semangat patriotisme. Cinta tanah air tak pernah menghalangi untuk mencintai saudara-saudara seiman yang teraniaya di Myanmar.

Bertopi berikat merah putih. Kemeja putih dan bercelana hitam. Warna-warna penuh pesan pada dunia. Merahnya masih membara, berani. Putih suci niatnya melawan kezaliman. Hitam duka mendalam untuk Rohingya.

Mengenakan tas ransel di punggungnya.  Menyelinap di antara barisan ribuan masa yang menyemut. Tanpa pengawalan yang ketat. Diam-diam langkahnya kuikuti. Tanpa sepengetahuannya. Bergerak dan melangkah bersama warga Jakarta, menuntut keadilan bagi muslim Rohingya.

Tubuhnya yang ramping.

Ternyata lantang berkata;
"Kami Mengutuk keras atas tindakan biadab yang terjadi di Myanmar. Kami juga mendesak kepada pemerintah Myanmar untuk segera menghentikan berbagai bentuk kebiadaban yang terus dilakukan kepada saudara kami di Myanmar"

Dinegeri berduri suara lantang dan tegas tadi dari, Sakhir Purnomo.

Bilakah sampai ke pimpin disini? Bilakah sampai ke pemimpin-pemimpin Myanmar yang haus darah?

Kita harus singkirkan duri dijalan. Sebab siapa yang mampu dan tak mau menyingkirkan duri dijalan. Imannya sedang lemah. Berhati-hatilah! Perjuangan kita masih panjang. Jangan terlena oleh dunia.

Oohhh...kapan bisa kita cabut seluruh duri yang ditancapkan ke pertiwi?

Agar kita bisa tegak. Berkata pada dunia. Indonesia masih ada. Indonesia masih bisa membela, Rohingya.


Catatan kecil seorang demonstran bertubuh kecil. 
Jakarta 6 September 2017.


No comments:

Powered by Blogger.