Header Ads

Amalan Pembuka Pintu Rezeki (Bagian 1)



Oleh: Irwan Prayitno
Gubernur Sumatera Barat

Mengawali Ramadhan kita, 1438H, saya ingin membukanya dengan taushiah tentang amalan-amalan pembuka pintu rezeki.

Bapak-ibu, Allah dengan Asmaul Husna-nya, salah satunya disebut dengan Ar-Razaaq, Yang Maha Pemberi Rezeki. Dia Allah yang mampu menurunkan rezeki bagi setiap hambaNya. Hak prerogratif bagi Allah untuk memberi rezeki kepada manusia. Rezeki bisa berupa anak yang saleh bagi yang belum mendapat keturunan, rumah yang layak, pangan sehari-hari.

Dalam firman Allah Surah Ath Thalaq ayat 2-3

و من يتق الله يجعل له مخرجا . و يرزقه من حيث لا يحتسب . و من يتوكل علي الله فهو حسبه .  هن الله بالغ امره . قد جعل الله لكل شئ قدرا .

Artinya:

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya Rizki dari arah yang tidak dia duga. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia mencukupinya. Sesungguhnya Allah akan mencapai urusanNya, sesungguhnya Allah telah mengadakan bagi tiap-tiap sesuatu ketentuan.”

Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya Rizki dari arah yang tidak dia duga” adalah barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi laranganNya niscaya Dia akan member rizki dari arah yang tidak pernah terbesit dalam hatinya.

Dalam kitab Al Musnad disebutkan dari Muhammad  bin Ali bin Abdullah bin Abbas, dari ayahnya, dari kakeknya, Abdullah bin Abbas, dia berkata: “Rasulullah bersabda:

“Barang siapa banyak beristighfar (memohon ampunan), maka Allah akan menjadikan baginya setiap kesusahan menjadi kemudahan, setiap kesempitan menjadi kelapangan, dan akan Dia karuniai rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Dari Imam Ahmad meriwayatkan dari Tsauban, dia berkata: “Rasulullah bersabda: “sesungguhnya seorang hamba akan diharamkan dari rizki karena dosa yang dilakukannnya, dan tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebaikan.” (H. R. An Nasa’i. Ibnu Majah)

Apa beratnya kita beristighfar?
Astaghfirullahal 'azhim...
Astaghfirullahal 'azhim...
Astaghfirullahal 'azhim...
Yang berat adalah menyelami maknanya, tulus dalam mengucapkannya. Dan itu bisa kita lakukan jika kita lakukan berulang-ulang, dan menjadikannya amalan di setiap kesempatan.

Jikalau Allah mendatangkan rezeki bagi kita, janganlah lupa bersyukur, dan tetap beristighfar. Agar Allah senang atas kebahagian dan ketawadhuan kita dalam menerimanya, dan tidak melupakan Allah Yang Maha Memberi Rezeki. Sehingga rezeki yang ada, sedikit atau banyaknya, tetap menjadi berkah, dan tidak menjadi ujian bagi kita.

No comments:

Powered by Blogger.